[Q&A] Kalau Tidak Bisa Menjawab Wawancara Dalam Bahasa Inggris?

Tanya (Upi): Saat wawancara beasiswa yang menggunakan bahasa Inggris, apa yang sebaiknya dilakukan jika tidak bisa menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris?

Jawab (Togap): Dear Upi, terima kasih buat emailnya (pertanyaan ini dikirim ke email saya). Tentu saja sebaiknya semua pertanyaan kamu jawab dalam bahasa Inggris. Apalagi kalau nantinya studi tersebut akan dilakukan dalam bahasa Inggris. Dengan menjawab setiap pertanyaan dalam bahasa Inggris, para pewawancara dapat mengukur (dan tentunya meyakini) kemampuan kamu dalam berbahasa Inggris. Apalagi dari awal sudah diwajibkan untuk mengirimkan nilai TOEFL atau IELTS kamu. Sekarang kan TOEFL (mungkin juga IELTS) ada bagian speaking test nya. Read the rest of this entry »

[Q&A] Surat Rekomendasi Dari Dosen dan Atasan

Di posting saya tentang menuliskan surat rekomendasi, Yenni memberikan pertanyaan berikut:

Dear Bang Togap,
Kalo waktu kuliah dulu, dosen2 ga begitu dekat dengan saya gimana? Jadi bagaimana saya bisa mendapatkan surat rekomendasinya? Apakah setiap atasan bisa memberikan surat rekomendasi yg baik (dlm hal bentuk dan struktur kata)?

Yenni punya dua pertanyaan. Saya akan jawab satu per satu:

1. Tidak ada dosen yang dekat. Agak pelik juga permasalahan ini. :). Pertama tama, coba cek benar-benar. Apakah memang benar tidak ada dosen yang dekat? OK, kalau jawabannya ya, coba pikirkan lagi. Apakah dosen wali atau dosen pembimbing TA kamu mungkin untuk dimintai surat rekomendasi? Read the rest of this entry »

Recommendation Letter

Catatan: Berikut adalah sharing seorang anggota milis beasiswa tentang recommendation letter. Pengalaman saya sendiri menuliskan recommendation letter untuk seorang teman kerja juga pernah saya posting di blog ini. Klik di sini untuk membacanya.

afifif@ indosat.net.id:

Recommendation letter atau juga disebut referrence adalah surat yang menerangkan mengenai kondisi anda. Surat tersebut adalah bukti formal mengenai kemampuan anda baik dibidang akademik dan kompetensi anda untuk bidang tertentu. Dalam kasus anda yang akan melanjutkan pendidikan, surat tersebut adalah bukti formal atau bukti tertulis mengenai kondisi kemampuan akademik dan intelegensi anda untuk melanjutkan pendidikan di tempat lain. Read the rest of this entry »

Mengubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan

Catatan: Tulisan ini adalah tanggapan atas komentar dan pertanyaan yang ditinggalkan Rastri dalam posting saya sebelumnya “IPK Rendah dapat Beasiswa – Mitos atau Fakta“.

Dear Rastri,

Ada yang pernah mengatakan: “if you keep on doing what you’ve always done, then you”ll keep on getting what you’ve always got“. Jadi kira-kira artinya, kalau kamu selalu melakukan hal yang sama, maka kamu akan selalu mendapatkan hal yang sama. Saya pikir ini suatu “hukum” yang cukup benar. Artinya, untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, kamu harus melakukan hal tersebut dengan cara yang lain.

Untuk kasus kamu, dari 10 kali kamu mengirim aplikasi, kamu harus sudah belajar dari hal tersebut. Kebanyakan orang yang sukses, bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Melainkan orang yang pernah gagal, dan kemudian belajar dari kegagalan tersebut. Bagi mereka, seperti pernah saya tuliskan, kegagalan adalah umpan balik. There is no failure, only feedback. Read the rest of this entry »

IPK Rendah Dapat Beasiswa – Mitos atau Fakta?

Catatan: Tentu saja saya tidak bermaksud mendorong mahasiswa yang sedang kuliah S1 sekarang untuk jadi santai dan tidak berusaha mendapatkan IPK setinggi-tingginya. Kesempatan mendapatkan beasiswa akan jauh lebih besar dengan IPK yang lebih dari rata-rata. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi wawasan bagi rekan-rekan yang keburu sudah lulus S1 dengan IPK yang tidak terlalu tinggi tapi mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri.

Sebuah email dikirim ke saya dari seorang member di milis beasiswa. Isi emailnya cukup panjang, walaupun inti pertanyaannya sederhana: “IPK di bawah 3.0 beneran bisa dapat beasiswa???”.

Hm… tentang IPK ini memang sering mengundang kontroversi. Di milis beasiswa sudah berulang kali member menanyakannya. Bahkan, karena sudah pernah ditanyakan dan didiskusikan sebelumnya, banyak email dengan pertanyaan sejenis terpaksa ditolak masuk ke milis beasiswa (maaf ya). Tapi bukan berarti pertanyaan tersebut berhenti. Malah akhirnya, pertanyaannya dilayangkan langsung ke email moderator. Dan mungkin sudah saatnya memang pertanyaan ini dijawab. Read the rest of this entry »

Bagaimana Cara Melamar ke Sekolah di Luar Negeri?

Sedang mempertimbangkan untuk kuliah Master di luar negeri? Caranya sebenarnya mudah, kalau anda tahu beberapa hal berikut. Pertanyaan berikut datang dari seorang member milis beasiswa.

Dear Milis Beasiswa:

Saya butuh info tentang cara melakukan aplikasi untuk melanjutkan sekolah master di luar negeri. Dari info yang pernah saya dengar, untuk mendapatkan beasiswa master di luar negeri, maka pertama-tama kita harus aplikasi dulu ke dosen yang ada di univ yang kita tuju. Tapi yang saya takutkan ialah, jika ternyata kita diterima dan tidak ada beasiswa, berarti kita tidak bisa sekolah di sanakan? Jadi yg ingin saya tanyakan:1. Cara aplikasi2. Apakah jika kita sudah diterima dan kita meminta beasiswa, kita sudah pasti mendapatkan beasiswa tersebut?Kayaknya segitu dulu. Terima makasih! Ria Read the rest of this entry »

Kerja Dulu atau Langsung Cari Beasiswa?

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan adalah pengaruh pengalaman kerja terhadap kemungkinan mendapatkan beasiswa. Contohnya pertanyaannya di bawah dari P. Yuriske: “Saya mau tanya jika saya lulus S1 dan belum pernah bekerja full time di perusahaan (tapi sewaktu kuliah saya pernah bekerja part-time sebagai asisten lab selama 2 semester), apakah saya bisa mendapatkan beasiswa untuk S2? Karena kebanyakan salah satu syarat mendapat beasiswa adalah mempunyai pengalaman kerja minimal 2 tahun.”

Terus terang saja, saya tidak tahu jawaban yang pasti untuk ini. Dan saya yakin memang tidak ada jawaban yang pasti.

Kebanyakan beasiswa, seperti beasiswa Fulbright, ADS, atau Stuned mensyaratkan pengalaman kerja ini. Bahkan terkadang salah satu persyaratannya adalah menuliskan esai. Dalam esai itu kamu diminta untuk menjelaskan hubungan antara kuliah S1 kamu dengan pekerjaan kamu sekarang dan rencana kuliah S2 kamu. Nah, kalau tidak pernah kerja, lalu apa berarti kamu sudah tidak mungkin mendapatkan beasiswa? Read the rest of this entry »