What The Hell Am I Doing Here?????

Seorang teman menuliskan kata-kata di atas di yahoo messenger (YM) saya untuk menggambarkan perasaan hatinya yang sedang stress berat. Kasus teman saya ini cukup unik. Uniknya begini: sering sekali orang meninggalkan pesan di YM saya kalau mereka merasa kecewa karena ditolak diterima di beasiswa tertentu. Tapi teman saya ini justru merasa pusing karena baru-baru ini diterima oleh salah satu beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang MBA. Beasiswa yang diterimanya diberikan oleh salah satu institusi pemberi beasiswa yang cukup populer. Sekolah tempatnya melanjutkan studi pun dikenal sebagai salah satu institusi terbaik di dunia untuk pendidikan MBA. Jadi kok pusing???

Ini sebenarnya bukan pertama kali teman saya itu, sebut saja Miss X, merasakan stress tersebut. Telah beberapa kali dia menuliskan pesan di YM saya tentang perasaannya. Dan hari ini, kembali dia menuliskan perasaannya itu.

Miss X ternyata tidak merasa termotivasi untuk menjalankan studinya. Sekolah di salah satu sekolah MBA terbaik di dunia malah membuatnya merasa lebih tertekan. Tugas-tugas yang diterima dirasakan berat dan sangat padat. Memang, proses pendidikan di institusi tersebut dikenal sangat kompetitif. Persaingan bukan hanya dengan para mahasiswa dari negara Barat, tapi juga terutama dengan para mahasiswa dari Asia yang terkenal sangat kompetitif dan ulet.

Selain itu, ternyata studi di negara lain tidaklah seindah yang diimpikannya. Ketiadaan teman dekat, bahasa yang berbeda, bahkan kekangenan akan makanan Indonesia ternyata dapat mengganggu dan menjadi faktor yang menjatuhkan mental. Saya bisa merasakan hal tersebut. Pertama kali tinggal di Rochester, New York, saya benar-benar stress karena makanan yang rasanya tawar untuk standar Indonesia yang terbiasa dengan berbagai bumbu masak. (Negara kita sungguh membanggakan. Makanannya saja bisa dibuat begitu eksotis).

Kemampuan beradaptasi secara budaya juga bisa menjadi faktor yang menentukan seseorang berhasil atau tidak dalam studinya di negara asing. Saya tidak tahu bagaimana teman saya itu. Semoga dia tidak terpengaruh oleh faktor budaya. Tapi buat saya dulu, faktor budaya ini juga mempunyai pengaruh besar. Contoh yang mudah saja: waktu saya kuliah di ITB dulu, hal yang biasa untuk para dosen mengumumkan nilai kami di papan pengumuman di gedung jurusan. Semua orang, mulai dari tukang sapu, pacar, pacar teman, kawan, lawan, orang-orang yang tidak berkepentingan, bisa tahu nilai saya dalam ujian tertentu misalnya. Jadi biasa juga kalau misalnya setelah selesai ujian tertentu, kami saling bertanya nilai yang diperoleh teman yang lain. Itu kebiasaan kita.

Ternyata, tidak demikian buat orang Amerika Serikat. Saat dengan lugunya (alias polos alias hampir bego)  saya menanyakan nilai ujian teman saya, dengan lugas dia menjawab,”It’s none of your business!“. Gosh! Wow! Saya pikir saat itu teman saya yang orang Amerika Serikat keturunan Korea tidak akan apa-apa ditanyai hal tersebut. Shock benar memang saya mendengar jawabannya. Apalagi dia memandang saya seperti seseorang dari planet asing. Mungkin dia bertanya – tanya dalam hati,”Ini orang sadar nggak dengan apa yang dia tanyakan barusan?”. Hehe… Kesadaran saya atas kultur Amerika Serikat, melalui pengalaman di atas, bertambah beberapa derajat.

Kembali ke teman saya, melalui media yahoo messenger dia berkisah kalau sebenarnya dia tidak merasa termotivasi. Tidak ada semangatnya untuk mempelajari bab demi bab buku-buku kuliah yang harus dipelajari setiap hari. Suatu hal yang biasa kalau untuk mempersiapkan diri dalam satu kelas tertentu, kita harus membaca tiga atau empat bab di textbook kita. Selain itu, tentu saja, tugas-tugas kuliah yang seabrek-abrek dan seakan-akan tidak pernah habis memberikan beban tersendiri. Tugas kelompok, tugas pribadi, kuis, ujian… Wah, memang tidak ada habis-habisnya. Kapan ada waktu buat berjalan-jalan menikmati atmosfer di negara asing kalau begitu?

Teman saya juga merasa kalau sebenarnya dia tidak mempunyai alasan yang kuat untuk melanjutkan sekolahnya. Alasan sebenarnya adalah untuk melarikan diri dari kebosanan dan rutinitas di perusahaan dimana dia bekerja sebelumnya. Telah bertahun-tahun dia merasa mengerjakan pekerjaan yang sama dan merasa harus keluar dari lingkaran kenyamanannya. Dan dia merasa melanjutkan kuliah di negara lain adalah jalan yang paling baik… dan mungkin paling mudah.

Saya merasa perlu menuliskan tentang teman saya ini karena kenyataannya saya sering sekali bertemu (secara virtual ataupun beneran) dengan orang-orang yang seperti teman saya ini. Mereka ingin melanjutkan studinya tapi sebenarnya tidak punya alasan yang tepat untuk kuliah lagi. Kuliah lagi justru dijadikan pelarian dari kebosanan di pekerjaan misalnya. Atau malah karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Berbagai pekerjaan sudah dicoba atau berbagai lamaran sudah dikirim, tetapi kok belum pernah dapat panggilan? Nah, daripada bosen, lebih baik kuliah lagi. Itulah yang saya pikir alasan yang kurang kuat.

Tentu saja, banyak orang kuliah lagi karena pendidikan S1 nya sudah kurang relevan dengan permintaan pasar. Dengan kuliah lagi mereka meng-upgrade dirinya dan mengganti brand personal nya dengan hal yang bisa jadi sama sekali baru. Istri saya begitu. Tadinya S1 di bidang Biologi dan kurang puas dengan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya di bidang itu. Akhirnya mengambil pendidikan MM dan sukses sekarang sebagai ahli marketing research. (Silahkan hubungi saya kalau Anda memerlukan bantuan ahli marketing research yang handal🙂 ). Buat orang-orang seperti ini, saya angkat topi. Mereka berani untuk move on, mencoba sesuatu yang baru.

Tapi bukan tentang mereka yang saya bahas di sini. Yang saya bahas adalah orang-orang yang sudah bosen dengan pekerjaannya, tidak tahu mau ngapain lagi, dan kemudian studi for the sake of getting out of their previous life. Kelihatan perbedaannya kan? Yang satu ada tujuan, yang satu membiarkan hidup yang membawa mereka. Berbeda.

Jadi, kalau sekarang Anda merasa ingin sekolah lagi, please please do this. Pikirkan baik-baik tujuan dan motivasi Anda. Pikirkan benar-benar dampak dari kuliah Anda bagi hidup Anda. Apakah Anda benar-benar menginginkannya atau Anda merasa bosen saja dengan kondisi Anda sekarang? Apakah Anda benar-benar merasa bahwa pendidikan lanjut tersebut Anda butuhkan atau sebenarnya karena Anda merasa tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan untuk mengubah hidup Anda.

So friends, take some time to think about this. Melanjutkan pendidikan hanya akan menjadi beban buat diri Anda jika Anda tidak mempunyai motivasi yang benar saat melakukannya. Studi itu justru akan terasa fun dan berguna kalau motivasi Anda memang jelas dan Anda tahu apa yang Anda cari. Pikirkanlah masak-masak sebelum membuat keputusan.

19 Responses to “What The Hell Am I Doing Here?????”

  1. Antares Wicaksono Says:

    Sedih dan kadang-kadang “jengkel” dengan orang-orang yang tidak bisa menghargai “kesempatan” yang (mungkin) bagi orang lain bisa memberikan manfaat jauh lebih besar.

    Setuju dengan pendapat Mas Togap tentang “…Melanjutkan pendidikan hanya akan menjadi beban buat diri Anda jika Anda tidak mempunyai motivasi yang benar saat melakukannya…” Harusnya bagi siapapun yang akan berjuang untuk studi lanjut terlebih dengan menggunakan beasiswa, menjaga kontinuitas “motivasi dan semangat” alias tetap “persistent and passionate” menjadi titik ujian diri pribadi kita dalam memperjuangkan sesuatu.

    Pengalaman seperti yang dicontohkan Mas Togap, pernah dijumpai pula pada beberapa rekan mahasiswa Indonesia yang mendapatkan beasiswa studi lanjut dari Pemerintah Spanyol. Saya pribad kadang-kadang heran sendiri dan menyesalkan sikap tersebut. Hal ini tidak lain “jatah beasiswa untuk negara tertentu” ditentukan dari prestasi penerima beasiswa sebelumnya. Persis seperti proses PMDK atau PBUD di PTN-PTN terkenal di Indonesia. Bila mahasiswa penerima PMDK dan PBUD tidak berprestasi baik, maka hampir dapat dipastikan jatah untuk adik-adik kelasnya pun berkurang.

    Sayangnya konsep untuk “peduli pada generasi penerima beasiswa selanjutnya” tidak selalu dimiliki para penerima beasiswa saat ini. Saya masih ingat ada salah satu SMU Negeri favorit dan terkenal di Jakarta yang terletak di kawasan Bukit Duri Tanjakan (Tebet) yang nyaris tiap tahun jumlah penerima PMDK/PBUD-nya tidak pernah berkurang malah senantiasa bertambah. Hal ini tidak lain karena “semangat” para kakak kelasnya yang berusaha untuk tetap berprestasi setelah diterima lewat PMDK di PTN, demi “menjaga peluang” yang sama bagi adik-adik kelasnya.

    Selain harus memiliki “motivasi yang benar” ketika studi lanjut di LN dengan beasiswa, setiap penerima beasiswa haruslah punya semangat “memberikan kesempatan yang sama bagi generasi selanjutnya” untuk mendapatkan beasiswa, lewat prestasi belajar yang ditunjukkan selama studi di LN tersebut.

    Sebab “citra yang baik dan berprestasi” selama menjadi penerima beasiswa di LN, akan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi negara donor atau lembaga pemberi beasiswa meningkatkan jatah/kuota beasiswa, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan.

    Salam,

    Antares Wicaksono

  2. Jennie Says:

    Sekolah di luar negeri memperkaya wawasan dan memperkuat kepribadian. Terutama meningkatkan kemandirian belajar dan kemandirian menjadi diri yang self-sufficient.

    Memang tinggal/belajar di luar negeri tidak semudah/seindah bayangan orang kebanyakan, terutama yang sudah terbiasa hidup dalam lingkungan kekeluargaan macam dari Indonesia. Bagaimana seseorang dibesarkan pun, termasuk keadaan keluarga sangat menentukan kemandirian di rantau kelak.

    Based on pengalaman saya pribadi yang anak tunggal, independence adalah sesuatu yang buat saya sudah integral dalam diri. Boleh ada teman, boleh solitary, tidak terlalu masalah. Boleh debat berkelompok, boleh juga kutek2 sendirian.

    Benar sekali kata Togap bahwa sebelum memutuskan untuk ke luar negeri untuk alasan apa pun dan dengan beasiswa atau bukan, sangat krusial untuk mencari landasan keputusan. Motivasi mestilah internal dan berasal dari mindset yang kuat.

    Untuk hal ini, refleksi dan kontemplasi adalah kuncinya. Semoga berguna.

    Best wishes,
    Jennie S. Bev
    (Penulis buku “Mindset Sukses”)

  3. Qonita Says:

    Sepakat Bang Togap!Memang harus disiapin semua sebelum berangkat ke LN, termasuk urusan target dan tujuan.Sebab, tidak selalu apa yang terjadi seperti yang kita bayangkan.Motivasi awal dan tujuan akhir dari studi ke LN harus jelas dan kuat, kalau tidak, bisa-bisa harus pulang di tengah jalan.Sayang kan…

  4. osinaga Says:

    wah posting yg bagus bang togap🙂.. hmm jadi mikir2 lagi nih utk lanjut kuliah… lanjut..tidak..lanjut..tidak..ah lanjut aja lahhh… he..he.he..

  5. Inne Says:

    Dear all,
    Tergelitik juga ya baca posting Bang Togap. Why? Sebab Saya merasa jadi bagian contoh kasus itu.Kadang-kadang Saya juga berpikir, “Kenapa ya harus kuliah lagi?” Dan menurut saya, kita memang perlu meninjau ulang NIAT dan motivasi kita dalam melakukan segala hal.Introspeksi nih buat diri saya sendiri🙂 Makasih ya Bang buat “blessings in disguise”-nya.

  6. nasativa Says:

    Hello Mr. Togap and all readers…

    Hmmm…Wow…Thanks…

    Waaahhh… untung baca blog nya Mr.Togap hehe.
    Actually I wanna go to another country for searching something. Pas baca blog nya Mr. Togap, terimakasih sekali udah diingetin buat motivasi dan tujuan yang mau dilakukan dikemudian hari.

    Ya,,ya,, kadang belajar itu bikin pusing. Sebab kadang tujuan mempelajari sesuatu itu berbeda. atau malah ga ngerti. Pernah ga mikir “kenapa harus belajar pelajaran ini, toh dikemudian hari ga bakalan dipake sehari-hari?”. At least, this is one of question in my mind dari kecil sampai sekarang…

    And then I read your blog. Yeah,,, Ya, kita butuh motivasi yang kuat, dan kita butuh tujuan kenapa kita harus belajar. So, buat semuanya dan Mr. Togap with your wife ^_^ can you give me another information? Yang paling penting kesulitan-kesulitan kalau kita tinggal di luar..hehe.. maaf merepotkan yaa …

    bye..

  7. noegraha tahel Says:

    agree with pak togap, tapi satu hal yang perlu kita pelajari sebagai seorang yang dulunya kuliah, jika dibandingkan dengan sistem pendidikan di luar negeri dan di indonesia pasti berbeda jauh. Kebayakan pelajar indonesia sudah terbiasa dengan cara belajar yang nyantai walaupun tidak semuanya begitu( tapi kita bisa lihat kebayakan sih begitu), makanya kebayakan mahasiswa yang sudah selesai kuliah tapi masih menganggur karena mereka tidak ahli di bidangnya.
    kalau terkadang kita yang sudah kerjapun merasa bosan dengan rutinitas yang always same everyday.. dan tidak naik- naik posisi.. ( ha..ha…), dan pengen lanjuti studynya …, satu pertanyaan ku, jarang sekali penerima beasiswa itu berasal dari universitas swasta yang tdak begitu terkenal, padahal banyak dari mereka yang mempunyai semangat belajar yang baik dan mengharapkan beasiswanya ke luarnegri agar bisa lebih maju lagi.. contohnya saya…?
    ( answear that please ????)

  8. anonymous Says:

    mengenai “jarang sekali penerima beasiswa itu berasal dari suatu universitas X” (bs univ negeri, bs swasta, bs terkenal, bs tidak), menurut pengamatan saya, biasanya pemberi beasiswa dari luar negeri, cenderung untuk memilih mahasiswa dari univ tertentu yang mereka tahu kualitasnya, entah karena mereka punya kerja sama, atau kenal dengan salah satu dosennya. apalagi kalau mahasiswa2 dr universitas tsb berprestasi baik, kenapa harus gambling memilih dari univ lain, yg blom diketahui kualitas dan mutunya.

    kecuali, anda memang bisa menunjukkan bahwa anda memang punya kualitas yang bisa dibanggakan sehingga membuat si pemberi beasiswa ini menoleh kepada anda, dan ujungnya nanti melirik pelamar2 dari univ anda.

    selain itu, mgnai diterima/tidak, terkadang juga menyangkut masalah aplikasi, apakah anda sudah membandingkan isi aplikasi anda (cv, motivation letter, statement of purpose, dll) dengan mereka yang diterima?

    last word, saya punya beberapa teman yang mereka datang dari univ2 yg memang jarang mahasiswanya dapat beasiswa. dan mereka memang luar biasa. jadi kl mereka bisa, kenapa anda tidak?

  9. anna Says:

    wah wah betul banget tuh sangat setuju with Mr. Togap, saya juga hampir melakukan hal itu, dulu sangat menggebu-gebu pingin cari beasiswa ke Luar Negeri yah tanpa tujuan yang pasti sebenarnya motivasinya apa….tapi sebelum banyak berjuang akhirnya saya sadar bahwa sekolah memang penting tetapi harus jelas dulu apa yang ingin saya dapatkan selanjutnya dengan sekolah lagi selain upgrade ilmu pastinya. Dan lagi kalo tujuan utama menambah ilmu kan ngga harus sekolah apalagi di luar negeri yang kalau dapat beasiswa dan tidak dijalankan dengan baik akan berdampak pada tidak hanya diri sendiri tapi bangsa Indonesia….iya kan

  10. tiatove Says:

    Tulisan yang menarik… and I totally agree with mas togap😀, banyak suka duka study d luar negri dan saya baru merasakannya satu semester ini….masa honeymoon-nya ternyata cuma sebentar..setelah itu kita akan disibukkan dgn semua badai assignments and cultural adjustment yg sangat menguras energi fisik n non-fisik n’ akan tiba pada suatu titik terendah dengan pertanyaan “buat apa saya sekolah? buat apa semua pengorbanan ini?” rasanya ingin pulang saja ke indonesia saat itu:D…survive atau tidaknya kita kembali lagi ke motivasi, yang kata seorang teman harusnya pertanyaan itu sudah terjawab sebelum kita memutuskan untuk study ke luar negeri.

    regards,
    Mantan scholarship hunter and awardee 3 scholarships…

  11. nva Says:

    yeah..she is lost..i think i should go instead of her, at least i know what i want (now try to figure it our how it works) hahaha….

  12. rijalulghad Says:

    sekedar menambahkan,

    smoga jadi bahan motivasi. ditengah kondisi negeri kita yang kian terpuruk. ada baiknya saya dan teman2 yang mendapatkan kesempatan u/ kuliah (s1/s2/s3) benar2 bisa memanfaatkannya. tentunya untuk kepentingan bersama dan bukan sekedar cari nama/nambah pengalaman pribadi.
    Indonesia hari ini memiliki ratusan profesor dan mahasiswa PhD lulusan luar negeri baik yang sudah pulang ke Indonesia atau yang memilih berkarir di luar negeri.

    catatan saya, masih banyak rakyat kita yg kebingungan dan dibelenggu kebodohan-kemiskinan (terkait erat). tugas kita memperbaiki keadaan bangsa kita.

    bersama-sama, kita bisa mewujudkan Indonesia yang bermartabat dan sejahtera.

    salamhangat,
    -bangzenk di Belanda-

  13. nizar Says:

    tulisannya menarik sekali. sy belakangan ini sudah tidak begitu tertarik lagi cari sekolah luarnegeri, ya karena sudah terjadi perubahan motivasi dan tujuan. sekarang bg saya yg penting bisa menimba ilmu walopun itu didalam negeri. bny juga yg tamatan luar negeri tetapi kontribusinya untuk negeri sangat tipis bahkan sibuk aja cari proyek kayak kontraktor aja.
    tetapi kl cari beasiswa tetap sy cari, biaya s2 khan jauh lebih mahal dari s1. mas togap ada info ga, beasiswa untuk mhs s2 yang sedang menempuh study di dalam negeri?
    sy lagi s2 di univ syiah kuala banda aceh and still need fund hehhe..

  14. afraafifah Says:

    thx for sharing:)

  15. Harri Says:

    yeahh..
    jadi termotivasi kembali..🙂

  16. dina Says:

    I think I am sure what I wanna do..I think😀

  17. eka pri Says:

    thx bang togap…

    best of luck for anybody who gets opportunity to continue his/her study abroad, but anyway… pikir2 bener juga apa yg bang togap bilang, think focus to what we really want to do n which one is the best for our life, for now and future.

    bagus banget blog nya, makes me realize that it s just a beautiful illusion. but it would be a beautiful thing if we re really can handle it seriously… not just for taking granted to our own silly dreams. (to cure my self… hue hue ^_^ )

    tanpa beasiswa atau dengan beasiswa,
    tanpa phd atau dengan phd,
    saya harus tetap sukses.
    hiduplah harapan!!!
    merdeka!!!
    hehehe…

    eka priyatna
    bandung
    PS: bang togap sering2lah membuat cerita motivasi,
    coz i do need it. thx anyway…

  18. rikagelar Says:

    Iya Pak Togap, memang yang paling sulit tuh kayaknya planning your life. determine the goals. Kedua setelah menentukan tujuan, bertahan agar tetap ingat tujuan kita. dan kadang, karena tujuan yang gak jelas, jadi mudah patah semangat. benar-benar penting ya, kejelasan tujuan itu, kalo enggak, sayang banget kesempatan ke luar negeri yang sudah diraih, malah depresi di sana. padahal kalau mau bisa gak cuma kuliah doank kan. tapi belajar budaya, meneliti secara langsung kultur di sana, dan nanti berbagi yang positif dengan teman-teman di indonesia. Jadinya kan bermanfaat buat orang lain.

  19. drue Says:

    Hmm…baca cerita diatas jadi mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri. terus terang..saya dulu ga pernah sekalipun berpikir akan menjadi seorang perawat (FYI saya fresh graduate dari fakultas keperawatan tertua di Indonesia). awal kuliah, saya pengennya masuk sastra jepang karena saya menyadari potensi saya belajar bahasa asing sangat besar. tapi apa daya, orang tua saya tidak setuju dan akhirnya saya tetap melanjutkan studi. selama kuliah, saya tidak ada motivasi sama sekali terhadap bidang keperawatan..bisa dibilang..kuliah ya sekedar kuliah..ga dapet feel-nya sama sekali (alhamdulillah nilai saya ga sampe jeblok). tapi ya gitu..4 tahun berlalu tanpa dapet feel di nursing. tambah pula waktu menjalani profesi selama 1tahun (sebenarnya saya dulu bisa saja tidak ikut program ini tapi demi bakti kepada ortu, akhirnya saya tetap melanjutkan program ini)..ketika saya menjalani tahap profesi saya baru merasakan capeknya jadi perawat, tapi saya juga mulai dapet feel nursing itu..tapi saya belum juga termotivasi (apalagi nursing indonesia penuh dengan berbagai kekurangan disana-sini) menjadi professional nurse..tapi saya kembalikan lagi ke niat saya..sudah kuliah 5 tahun kok masih gini2 aja..akhirnya saya semangat mencari peluang melanjutkan studi.. (memang penyesalan selalu datang terakhir)
    Ya..menjalani study klo ga termotivasi dan dengan perasaan happy memang menyiksa..
    saya inget banget waktu semester 6-7 saya dapat kesempatan mengikuti kelas bahasa Korea di fak.sastra kampus saya (kebetulan dibuka kelas lintas fakultas)..saya bener2 ngerasa belajar bahasa itu sebagai charger. klo saya udah mulai bosan belajar nursing, saya belajar bahasa korea..hehehe..malah dulu saya semangat banget belajar bahasa dan berniat melanjutkan studi kesana. tapi kaya’nya peluang mendapat beasiswa perawat ke korea sangat kecil..tapi saya tetap semangat!!
    menurut saya sih..ketika menemui hambatan itu..kita kembalikan lagi ke niat semula, apa sih tujuan kita mengambil studi tersebut?? Banyak2 berdoa semoga Tuhan meluruskan niat kita melanjutkan study apa lagi di LN..
    TETAP SEMANGAT!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: