Faktor Pendukung Keberhasilan Karir

Posting saya bertajuk “Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir” menuai banyak kritikan. Saya pikir bagus juga kritikan-kritikannya. Jadi saya bisa belajar menulis dengan lebih baik lagi. Terima kasih buat rekan-rekan yang sudah menyempatkan diri menulis komentar-komentar tersebut.

Saya jadinya terpicu untuk mencari informasi lebih banyak tentang faktor yang mendukung keberhasilan karir. Tentu saja, faktor pendidikan memang penting. Saya tidak menyangkal itu. Faktor pendidikan sering kali menjadi faktor penentu seseorang diterima bekerja di salah satu perusahaan. Contohnya, iklan-iklan di koran masih menuliskan bahwa salah satu persyaratan seseorang untuk diterima bekerja di perusahaan X adalah minimum pendidikan S1 di jurusan Y. Jadi sebagai persyaratan minimum, pendidikan memang harus ada. (Pengalaman karir saya selama ini di bidang industri, jadi saya tidak bisa berkomentar tentang karir di bidang akademis yang tentunya sangat berbeda).

Nah, bagaimana setelah bekerja? Apakah latar belakang pendidikan di salah satu universitas top misalnya masih menjadi faktor penentu keberhasilan karir Anda? Benarkah bahwa pendidikan S2 misalnya menolong Anda untuk dipromosi?

Saya sendiri punya pengalaman promosi yang mungkin agak luar biasa karena terjadi dua kali dalam setahun. Saat itu saya belum kuliah S2. Jadi tentu saja saya bisa bilang itu tidak terjadi karena pendidikan S2 saya. Bahkan setelah S2, saya tidak pernah lagi punya pengalaman seperti itu.

Saya mengundang rekan-rekan yang punya pengalaman seperti saya atau pengalaman lainnya yang berhubungan dengan karir dan pendidikan untuk menuliskan komentarnya. Ditunggu dengan sabar🙂 !

8 Responses to “Faktor Pendukung Keberhasilan Karir”

  1. Ibara Says:

    Salam kenal dulu,
    Bang Togap… dulu sewaktu taman s1 saya baru dapat pekerjaan setelah 6 bulan… karena alasan tidak berkembang, saya putuskan berhenti & melanjutkan kuliah s2. 6 bulan setelah selesai saya diterima jadi dosen PNS. sekarang? tentu saja mau cari beasiswa ke luar… masih ada 4 teman saya lagi sewaktu s2, mereka memiliki karier lebih fantastis dibanding saya. sebut saja mereka (A, B, C dan E..). si A lulus s2 sambil bekerja saat kuliah menerima 5 tawaran pekerjaan dengan keunikan sendiri2 ( dari gaji, aturan kerja, fasilitas dll), sukes setelah S2! si B lulus s2 3 bulan setelahnya diterima bekerja di perusahaan Jepang dan pindah ke perusahaan eropa namun akhirnya memutuskan berhenti dengan alasan ingin bebas, akhirnya memutuskan menjadi dosen + proyek , si C setelah selesai Sidang Thesis keesokan harinya diterima kerja di Bank papan atas (tentunya sudah apply jauh2 hari … 6 bulan sebelumnya.. & melalui lulus tes yg sangat panjang) sekarangtetap di Bank X dengan fasilitas kantor yg hmm OK.. si D saya sendiri🙂, si E butuh beberapa kali percobaan hingga betah ditempat kerjanyaa saat ini… well.. sedangkan tman2 lainnya mereka paling lama 1 tahun untuk mendapatkan pekerjaan….. bekerja semua! Saya kira tetap ada korelasinya walaupun tidak semua kasus, karir naik juga ditunjang oleh paket kompetensi+attitude+& faktor x lainnya.

    oh ya, saya ingat tmen saya si ‘z’… khabar terakhir 2 tahun lalu dia tidak bekerja, karena tawaran yang datang dia tolak karena tidak sesuai dengan kemauannya…. barangkali itu adalah kasus gagal. sementara tmen saya si ‘y’ yang kena DO saat ini menjadi pengelola project X sambil meneruskan kuliah di tempat lain.

    sekian, semoga ada manfaatnya.

  2. novita Says:

    Ya…saya setuju, bahwa pendidikan juga mempengaruhi karir…

  3. fuad munajat' kudus Says:

    tema ini sebenarnya gampang2 susah. aku pernah sesuai dan sekaligus tidak sesuai. jelang lulus s1 aku sedikit frustasi karena melihat kakak2 kelasku banyak yang nganggur. that why aku ga buru2 lulus takut menambah angka pengangguran. tapi setelah ngelamar kesana sini ternyata aku diterima jadi PNS dalam kapasitas sebagai dosen. dan itu aku sadari benar berkat jenjang kuliah yang ku miliki serta jurusan kuliah yang masih langka. soooo kalo ingin kuliah harap pertimbangkan jurusan dan karir yang akan kamu pilih.

  4. chacha Says:

    Salam!! Kalo menurut pengalaman pribadi saya, tergantung perusahaannya jg, kalo kita kerja di hospitality industry, they dont value our education background, even we are bachelor or even master or doctoral graduate, they prefer to hire experienced guy. Tapi untuk perusahaan konsultan misalnya, jelas background pendidikan dibutuhin banget, malah komentar boss saya pas mau promote salah satu karyawan, ‘kan dia cm lulusan high school aja, jadi gajinya juga gak bisa ngelebihin yg lulusan sarjana’…. so kayanya penting untuk tau prioritas diri kita apakah kita akan menjual & mempromosikan diri kita based on experience or education, I believe both will work as long as we want it to work. Dan faktor yang perlu dilakukan juga adalah kita tidak berhenti meng-explore diri kita to become someone yg notabene much better than anyone else, jadi harga jual kita makin tinggi.

  5. adey Says:

    Saya setuju kalau pendidikan itu penting, terutama dalam membentuk alur berpikir logis dan kemampuan analisa (bandingkan lulusan SMA dengan S1). Tapi latar belakang pendidikan saja tentunya tidak cukup. Banyak sekali kemampuan lain yang tidak diperoleh dari bangku pendidikan semata, misalnya kemampuan negosiasi, membina network, atau bahkan membuat draft surat!
    Terus terang saya kadang merasa kasihan jika bertemu mahasiswa atau lulusan S2 yang belum memiliki pengalaman kerja tapi berharap langsung bisa mendapatkan posisi manajerial dan tidak mau mulai ‘dari bawah’. Semoga saja mahasiswa saya tidak ada lagi yang seperti itu🙂

  6. ella Says:

    menurut saya ..korelasinya memang ada, namun itu juga ditentukan banyak faktor X nya. bagi yang langsung melanjutkan program master setelah s-1 juga bagus2 aja, menimba ilmu itu kan sampai tak terbatas (umur, waktu de el el)..karena saya juga salah seorang yang langsung lanjut program master lagi setelah s1, namun pengalaman2 saya bekerja kebetulan selalu sama ato hampir sama dengan background pendidikan saya. namun bukan berarti gak ada halangannya loo..

  7. ducker Says:

    korelasi pasti ada. Sekarang perusahaan banyak meminta calon pekerja dengan standar,,,min s1 atau minimal s2. and so on. Untuk jenjang karir di suatu perusahaan saya rasa tingkat pendidikan sangat penting. Contoh: PNS,,,untuk lulusan s2 langsung di 3B. Tapi sebaiknya semakin tinggi tingkat pendidikan,semakin banyak pengetahuan dan keahlian yang dipegang,,,,jangan cuma S2 KTP (seperti islam KTP)

  8. taufan Says:

    Salam bang Togap!
    Blog yang menarik dengan tulisan2 yang menarik dan informatif. Saya ingin berkomentar tentang tulisan ini sekaligus tulisan “korelasi pendidikan dengan karir”.
    Menurut saya, dalam hidup ini, apapun profesi seseorang (pegawai, wiraswasta, dll) semuanya bergantung pada 2 hal: keuletan dan keberuntungan. Keduanya memiliki prosentase yang bisa berbeda pada satu orang dengan orang lain. Namun, untuk tetap memotivasi sendiri, saya sepakat bahwa keuletan (kerja-keras) memiliki prosentase lebih besar ketimbang keberuntungan. Lalu, pendidikan posisinya dimana? Pendidikan, menurut saya, lagi2 ada di salah satu atau kedua faktor di atas.
    Misal: ada orang yg berasal dari keluarga kurang mampu, sekaligus kurang informasi karna tinggal di daerah/pelosok — secara pendidikan dia termasuk tidak beruntung, karena kekurangannya mungkin menghalangi akses untuk mendapat pendidikan setinggi2nya. Namun apakah, karirnya bakal mandeg? Belum tentu, kalo dia ulet, bisa saja satu pintu tertutup, sedangkan pintu2 lain terbuka untuknya.
    Contoh lain: saya dulu punya teman yang sama2 kuliah di teknik. Namun ortu-nya ingin anaknya menjadi dokter. Ikut UMPTN yang kedua, lulus di PTN jurusan kedokteran. Si ortu tentu bangga+senang, biaya pun tidak jadi masalah karena mereka kaya. Namun, ternyata si teman, tidak ada minat sm sekali di dokter. Dan setelah menjalani kuliah dobel, akhirnya dia putuskan cabut dari kuliah dokternya dan tetep kuliah di teknik: bidang yang mungkin disenangi.
    Nah, barusan nemu satu faktor lagi bang: cinta. Orang kalo cinta, apapun bakal dijalani walaupun berat. Bahkan karir biasa2, tidak menghalanginya untuk menikmati hidup dengan pekerjaan yang dicintainya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: