Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir?

Sebagai seorang education motivator dan pendiri milis beasiswa (jumlah member hanya 40 ribu orang lebih), saya selalu tertarik untuk membicarakan tentang pendidikan. Jadi waktu di salah satu milis ada pembicaraan tentang topik ini, saya jadi gatal rasanya untuk ikut menanggapi.

Kalau ditanyakan bagaimana proyeksi karir dengan pendidikan, jawaban saya: sekitar 20% saja. Lho kok sedikit sekali. Ya, karena pada kenyataannya, tingkat karir sering kali tidak berkorelasi linier dengan tingkat pendidikan. Seorang dengan pendidikan S2 atau S3 tidak selalu akan mendapatkan karir yang baik. Anda mungkin tahu orang-orang dengan tingkat pendidikan tinggi yang ternyata karirnya biasa-biasa saja. Saya tahu seseorang yang lulus dengan gelar Master dari salah satu universitas terkenal di dunia ternyata tidak pernah mendapatkan promosi. Bahkan, perusahaan melihat kinerjanya rendah dan sedang memikirkan cara yang terbaik untuk me-utilisasinya.

Tapi anehnya, ada saja orang-orang yang tingkat pendidikannya tidak “standar”, ternyata bisa mencapai karir yang dahsyat. Saya pernah membaca tentang seorang wanita yang tingkat pendidikannya hanya D3 dari sebuah akademi sekretaris yang akhirnya menjadi Direktur Regional untuk Quality Management di salah satu produsen komputer terbesar di dunia. Tanggung jawabnya di posisi itu meliputi daerah Asia Pasifik! Ibu tersebut sekarang berkiprah di salah satu training provider. D3 dari akademi sekretaris! (Saya yang MBA dari New York aja malu). Fantastik!

Contoh lain ada juga. Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang gadis muda. Usia masih 30 something. Pendidikan terakhir: D1 Sastra Inggris. Sekali lagi: Diploma 1 tahun jurusan Sastra Inggris. Penghasilannya sekarang? Besar sekali. Pekerjaan terakhirnya? National Buyer Manager untuk sebuah supermarket besar. (Dia tidak bekerja di situ lagi sekarang).

Oh ya, dua orang dalam kedua contoh terakhir ini kebetulan sama-sama perempuan.

Pendidikan rendah bakal punya karir rendah? No way. Pendidikan tinggi pasti karir baik? Maybe (masih maybe lho).

Jadi apa yang paling penting? Seperti disebutkan seorang pembicara terkenal di radio: IQ gets you hired, but EQ gets you promoted.

EQ, emotional quotient, saya pikir inilah yang terpenting. Saya senang sekali berbicara tentang hal ini karena saya yakin sekali akan kekuatan emotional quotient ini. Sampai saya pernah bela-belain bicara tentang ini free-of-charge di depan karyawan-karyawan baru salah satu perusahaan multinasional besar di Indonesia. Next time, saya akan menulis tentang EQ ini.

Tapi mungkin ada yang bakal bertanya: lha kok bisa ngaku2 jadi education motivator kalau ternyata malah nyuruh orang nggak sekolah. Well, saya bukannya menyuruh orang tidak sekolah. Dari pendidikan Master saya, saya merasakan banyak sekali manfaat yang saya dapatkan. Saya benar-benar terbantu dengan pendidikan Master saya. Tapi apakah hard skill dari pendidikan ini yang menolong saya? Ya lumayan memang. Tapi saya merasa bahwa soft skill yang saya kembangkan saat saya studi S2 lah yang paling banyak membantu saya dalam karir saya. Pendidikan saya tentu saja memberikan advantage, tapi soft skill lah yang menolong saya dalam karir saya.

Saran saya, if you really know what you want, then go to school. Do your best during your study and learn the things you want to learn passionately. Nggak ada untungnya kalau seseorang sekolah S2 hanya buat dapetin gelar. Tiga bulan lalu saya mewawancarai seseorang yang baru pulang dari studi S2 di negara paling maju di Eropa yang rela mendapatkan kerja apa saja. Pendidikan S2 nya tidak menolongnya mengembangkan karakter, perilaku, dan keahlihan-keahlian yang dibutuhkan untuk berhasil dalam karirnya. Sayang sekali.

Tapi kalau kamu nggak tahu mau kemana dalam hidupmu, pikirkan lagi deh keinginan buat sekolah. It might not help you anywhere anyway.

37 Responses to “Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir?”

  1. sari_musdar Says:

    sbg seorang HRD, saya setuju.
    walaupun latar belakang pendidikan tetap paling penting untuk bisa tersaring untuk mendapatkan pekerjaan…tp pengalaman, di tempat kerja dgn banyaknya tekanan, EQ memang menjadi lebih penting

  2. donny Says:

    Pada dasarnya saya sering melihat kenyataan yang sama. Namun menurut saya, sebagai akademisi, sebaiknya kesimpulan kita didukung oleh data penelitian. Kalau bisa yang sudah dipublikasikan. Karena “pendapat pakar”, bagaimanapun, adalah evidence tingkat 5 ( dalam kategori evidence based medicine ) – ini kalau meminjam kriteria di dunia sebelah. Masih ada beberapa tingkat bukti di atasnya yang lebih oke.

  3. Wahyu Says:

    Bukan hanya EQ yang mendorong suksesnya karir seseorang. Tapi lebih pada membangun strategi. Bagaimanapun, saya masih lebih sependapat pendidikan tinggi memiliki peluang yang lebih besar utk mendapat karir yang baik, seperti kata “maybe” yang anda sebutkan tadi. Contoh-contoh yang Anda sebutkan tentang ibu yang D3 dan D1 bisa mendapat karir sukses, serta sudah S3 tapi tidak mendapat promosi, tidak bisa digunakan utk mengeneralisasi keputusan yang Anda ambil berdasarkan kultur di Indonesia. Justifikasinya lemah. Bagaimanapun, pendidikan tinggi masih memiliki tempat yang istimewa di Indonesia. Jadi, kalau ada kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, mengapa tidak? untuk Anda, para pencari beasiswa, jangan khawatir, selalu ada banyak tempat untuk Anda di Indonesia.

  4. Wirya Says:

    Sepakat dech dengan bung Togap. Karier memang tidak selalu berkorelasi dengan tingkat pendidikan. Oleh karena itu banyak yang mengatakan “ngapain capek2 kuliah dengan serius toh akhirnya tidak terpakai di pekerjaan”. Sebagai contoh si ibu dari D3 sekretaris tadi memang tidak perlu menjadi doktor di bidang Biologi Molekuler misalnya atau teknologi pendeteksi tsunami untuk menjadi Direktur Regional untuk Quality Management. Maka dari itu haruslah disesuaikan tujuan menempuh pendidikan untuk apa? Kalau memang untuk mencari duit yang banyak memang tidak perlu ambil S2 atau S3. Tetapi jangan lupa, kita (Indonesia) masih membutuhkan ahli2 di bidang ilmu pengetahuan. Kalau semuanya memang mau cari duit banyak dan pada tidak sekolah dan menuntut ilmu yang tinggi, maka jangan protes, kalo banyak bencana di Indonesia dan kita gak bisa apa2 karena tidak pernah menuntut ilmu. Kalau tiba2 ada gelombang pasang dan kita tidak mendapat peringatan dini juga jangan protes. Wong semuanya pada gak mau blajar. Maka dari itu, kawan2 yang bersemangat menuntut ilmu jangan takut. Sepeti kata bung Wahyu di atas, masih banyak tempat bagi Anda. Apalagi kalau semakin banyak yang bersemboyan “ilmu tinggi tidak menjamin jadi kaya”, pesaing para penuntut ilmu untuk berkarya menjadi semakin sedikit (he…he…he)

    Salam Belajar…

  5. herbo Says:

    Ha ..ha.. ha… saya ragu dengan atasan yang mengangkat seorang berpendidikan rendah untuk memikul tanggung jawab begitu besar. Kalau ingin fair beri kesempatan yang sama untuk yang berpendidikan lebih tinggi. EQ tuh macam-macam lo terjemahannya termasuk toleransi dan daya adaptasi yang sangat permisif biasanya menunjukkan EQ yang tinggi. Ha..ha..ha….

  6. Putri Says:

    1. Saya sependapat dengan bung Togap, jika pernyataan tersebut dicerna dalam headings “how to be the richest person” and or “how to be accepted in labor market”.

    2. Tapi, saya tidak sependapat dengan bung Togap, jika pernyataan tersebut dicerna dalam headings “how to be an intellectual” ato “how to be an expert in science field”

    Karena yang pertama, menurut saya (dan menurut beberapa commentators), tolak ukurnya lebih kepada EQ, personality of workers.
    Sedangkan yang kedua, menurut saya, tolak ukurnya lebih kepada IQ, karena syarat menjadi seorang intellektual and expert adalah yaa…. harus menguasai ilmu-nya secara luas dan dalam.

    Jadi, ada tidaknya korelasi antara tingkat pendidikan dan kesuksesan karir, agak berat untuk disimpulkan hanya dengan satu variable dan definisi “karir” yang blur.

    Namun, yang sedang saya pikirkan sekarang ini. Teaching techniques of Indonesian Educational System sekarang bergeser dari Teacher-centered learning ke Student-Centered Learning (SCL) yang sukses di aplikasikan di negara2 barat (esp. first world country). Lalu, apakah pergeseran ini sesuai dengan karakteristik generasi muda Indonesia (termasuk saya)?
    Soalnya, menurut saya, sistem pendidikan and teaching techniques yang sukses di suatu negara bukan berarti dapat mendulang sukses jika diimplementasikan di negara lain, dalam hal ini Indonesia.
    Mohon diskusinya agar topik ini dapat berkembang.

    Maju Terus Pendidikan Indonesia.

  7. abusyahidan Says:

    Topic diskusinya menarik sekali untuk dikembangkan dan yang terpenting, at the end of the day, adalah summary dan saran-saran nyata, biar tidak menguap, dan ini akan bermanfaat untuk di-share bang Togap pada saat memberikan motivasi berikutnya free-of-charge. Saya rasa, bang Togap tidak sedang berusaha men-discourage yang pengin sekolah tinggi-tinggi. Lihat sarannya “if you really know what you want, then go to school. Do your best during your study and learn the things you want to learn passionately”. Jadi saya melihat bang Togap masih tetap memotivasi siapapun yang pengin sekolah tinggi dan jadi ahli di bidangnya. Memang benar adanya, banyak yang melanjutkan S2 hanya untuk mendapatkan gelar, karena memang membantu mendongkrak golongan untuk pegawai negeri, tapi tidak pegawai swasta. Memang benar juga, tidak selalu seorang S2 atau S3 bagus kariernya di perusahaan swasta atau lembaga-lembaga penelitian. Dan memang benar juga, kondisi seperti itu tidak bisa digeneralisasikan. Saat ini, barisan pengusung enterpreneur juga sedang mengangkat harkatnya. Gembar-gembor keberhasilan seorang wirausawan (maksudnya kalau pengen kaya mending jadi pengusaha) dan cenderung agak mendiscourage untuk jadi pegawai, karena jadi pegawai tidak akan pernah kaya, kalaupun bisa butuh waktu lama dan juga waktunya tersita untuk pekerjsaannya. Mereka benar juga. Apalagi kalau tidak sekedar latah, tapi benar-benar punya prinsip dan visi yang jelas. Sayangnya, banyak juga yang sekedar latah. yang ini bisa-bisa membuat orang tak mau sekolah. Jadi, pendidikan formal tetap penting, pendidikan tinggi lebih penting. Tapi yang paling penting adalah tahu maksudnya pergi ke sekolah, sekolah yang bener, sudah punya visi ketika lulus nanti. jadi kalau jadi ilmuwan ya benar-benar bermanfaat, dan kalau jadi pengusaha ya benar-benar sukses.

  8. Budidab Says:

    saya sih setuju2 saja kalo pendidikan belum tentu menjamin kesuksesan seseorang, yg kecenderungannya diartikan disini soal besarnya pendapatan (promosi toh juga akhirnya berdampak ke pendapatan). hanya saja, sy pernah juga membaca penelitian korelasi tingkat pendidikan & pendapatan hasilnya positif. kesimpulannya, secara umum pendidikan berkorelasi positif dg karir (pendapatan). jadi, jangan ragu tingkatkanlah pendidikan kita. namun bagi yg tdk bisa (mau) lanjut sekolah, jangan takut krn pendidikan bukan satu2nya jalan..:)

    kesuksesan tetap dibangun dari kerja keras (baik bagi yg pendidikannya tinggi ataupun tidak). mungkin itu adalah kunci yg terpenting..;)

  9. Johan Says:

    Saya ingin meminta pendapat dari bapak2, ibu2, mas2, mbak2 sekalian …
    Ceritanya neh … kalo da lulus dari pendidikan S2 even S3 … kira2 langkah ideal kita selanjutnya apa ???
    Apakah kerja (kerja terus menerus sambil berharap isa naek ke jenjang direktur utama) ??
    Apakah kerja, kemudian buka usaha sendiri (usaha apa seh ?? bengkel?? toko2 elektronik ?? toko2 alat2 bangunan?? ) ???
    Atau langsung aja buka usaha sendiri (yang mana menurut robert kiyosaki dengan membuka usaha sendiri pendapatan kita tidak dibatasi seperti hal nya kita kerja ama orang lain) ???
    Atau apa yang lain ???
    Kalo toh buka usaha sendiri, tidak kah terasa sia2 pendidikan yang kita enyam sampai S2 dan S3 ?? Tidak perlu toh sampe S2 atau S3 untuk buka usaha sendiri.

  10. lucky Says:

    Ada statistiknya, saya kutip dari create your own future Brian Tracy:

    “Some statistics on the value of education were just released by the U.S.
    Department of Labor. The researchers found that a person who completes
    high school would earn about $600,000 over the course of his or
    her working lifetime. But a person with a two-year community college
    degree will earn about $1,000,000 in his or her lifetime. This works out
    to an additional $400,000 more than a high school certificate, or about
    $200,000 more of lifetime income for each additional year of study. This
    is about $5,000 more per year. And it gets better.
    A university graduate with a four-year diploma will earn about
    $1,400,000 on average, over the course of his or her lifetime. A person
    What Is an Education Worth? 61
    with a master’s degree, equal to approximately five or six years of college
    education, will earn about $2,000,000 in his or her lifetime. A person
    with a Ph.D., which requires two to four additional years, will earn an
    average of $3,000,000.”

    Tapi itu kan in average. tentu saja ada kasus, malah mungkin tidak sedikit, yg berpendidikan rendah tetapi earn lebih banyak.

    Salam bung togap, blognya bagus dan bermanfaat.

  11. Janes Ginting Says:

    Saya melihat adanya korelasi positif antara tingkat pendidikan dan karir seseorang. Pendapat Lucky adalah satu bukti statistik menunjukkan hal ini. Juga, kalau kita lihat tingkat kemiskinan di Indonesia dan hubungannya dengan tingkat pendidikan, ada kecenderungan bahwa orang yang pendidikan lebih tinggi kehidupannya lebih baik (baca: termasuk karir) dari orang yang pendidikannya lebih rendah.

    Saya pribadi juga mengalami hal ini dimana ketika tingkat pendidikan saya lebih tinggi, potensi karir lebih bagus makin besar.

    Saya setuju IQ, dan tentu saja faktor lain (kemampuan bahasa inggris, kemampuan berkomunikasi, dsb, dsb) juga faktor penting untuk menunjang karir seseorang. Namun kita harus terus mempromosikan pentingnya pendidikan (formal dan non formal) dalam memperbaiki kesejahteraan hidup (termasuk karir). Education is key to alleviate people from poverty. Ya, ada beberapa contoh orang yang tingkat pendidikannya rendah namun karir nya sukses sekali. Tapi saya yakin pasti ada faktor ‘x’ yang membuat orang ini sangat istimewa. Yang pasti, dia pekerja keras. But again, this is an exceptional case.

    Demikian pendapat saya. Maju terus milis beasiswa. Dan bang Togar, your writing is always inspiring. Thanks.

  12. Dana Says:

    Ada korelasinya, bisa 50% atau lebih.

    Saya 7 tahun punya kantor jasa profesional, rekrut berbagai macam pegawai.

    Terbukti, bila start up S1 dengan S2 sama di kantor saya, tapi setelah 6 bulan tampak yang S2 lebih perform lho. Ini juga terbukti (maaf lho) anak lulusan PTN lebih cling drpd swasta.

    Hal yang sama juga terbukti sebelumnya ketika saya jadi pegawai.

    Kenapa? DI S2 pola belajar sangat berbeda daripada S1: di S2 mahasiswa lebih mandiri, ‘dipaksa’ mikir dan beranalisa, ‘dipaksa’ kerja cepat, lebih adaptif, terbiasa diskusi, terbiasa melihat ke depan, lebih nalar.

    Begitu juga dengan anak PTN, kenapa? karena dari awal SPMB pun mereka sudah terlatih bersaing dan bekerja keras, itu berlanjut.

    Ibarat atlit, yang banyak berlatih punya peluang besar untuk menang.

  13. Kristianto Says:

    Menurut pendapat saya pendidikan tinggi, itu tetap perlu, karena sangat sedikit perusahaan yang memberikan level karier yang cemerlang pada karyawanya yang hanya level pendidikannya menengah, meskipun kita tidak pungkiri bahwa karir seseorang akan lebih melesat jika dia bekerja berani ngambil resiko, banyak mencoba melakukan terobosan dan inovasi, berani gagal, siap menanggung resiko,, sementara karyawan setinggi apapun pendidikannya tetapi jika bekerja pasif, tidak berani ngambil resiko, tidak punya keberanian mencoba terobosan dan inovasi dengan tingkat resiko yang tinggi, tidak berani gagal, sulit mengangkat keuntungan perusahaan… mungkin.?? ,

  14. Daisy Says:

    Kalau menurut saya, definisi keberhasilan karir itu sangat relatif. Apakah seseorang yang menjadi dirut utama perusahaan multinasional karirnya lebih cemerlang dibandingkan seorang peneliti yang gajinya sak uprit tapi hasil penelitiannya sungguh bermanfaat bagi umat manusia dan alam sekitarnya?

    Saya sempat beberapa kali bertemu dengan orang Indonesia yang melecehkan pekerjaan ilmuwan.. maaf ini termasuk salah seorang staff yang saya temui di Fulbright. Padahal menjadi ilmuwan yang baik itu sama sulitnya dengan menjadi manajer yang baik.

    Dan saat ini pendidikan tinggi sangatlah diperlukan untuk menjadi ilmuwan. Bukan tidak mungkin, tetapi sungguh sulit bagi seorang buta aksara untuk memberikan kontribusi yang berharga bagi ilmu pengetahuan.

    Entah mengapa, mungkin Indonesia sudah terlalu larut dalam budaya konsumerisme. Kita suka sekali mengkonsumsi segala sesuatu, termasuk ilmu dan teknologi. Nyaris tak ada daya atau pun upaya untuk mengembangkan iptek sendiri. Pilihan untuk masuk ke dunia science menjadi pilihan yang sangat memprihatinkan, tak mampu menghidupi dirinya sendiri, apalagi membiayai penelitiannya. Sungguh kontras dengan profesi Marketing Manager.

    Semoga segera ada perbaikan ya..

    Salam dari seseorang yang sedang berusaha menuntut ilmu.

    daisy

  15. Same Shit Different Day Says:

    Hmm… member “hanya” 40 ribu orang lebih ya? Mudah-mudahan kau nggak lagi nyombong ya Gap. BTW, kenapa milisbeasiswa ditelantarkan sekarang, kok malah ngurusin blog? ROI sudah tidak sepadan?

    Gap, masih ingat waktu kita ngobrol di BQ Apt #21? Aku bilang aku kepingin ngambil beasiswa lagi untuk sekolah lanjutan. Kemudian kau nanya, untuk apa? Aku jawab, untuk meningkatkan profesinalisme. Kau nanya lagi, setelah itu buat apa? Aku bingung mau jawab apa. Soalnya kau yang baru ngambil S2 harusnya sudah tau jawaban itu. Akhirnya kau menjelaskan, kalau hanya mau mengharapkan naik gaji kenapa harus capek-capek ngambil S2, lebih baik buka usaha? Gitu nggak jawabanmu waktu itu?

    Akhirnya aku berpikir ulang lagi. Sebenarnya aku agak nggak terlalu menerima pendapatmu yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi untung rugi, berapa net profit yang didapat. Termasuk kalau ngambil beasiswa, kapan BEP dan berapa persen ROI nya. Hahaha… apa karena matamu sipit Gap?

    Tapi kau tau apa pengaruhnya? Sekarang aku nggak pernah terpikir lagi untuk ngambil sekolah lanjutan hanya untuk sekedar profesionalisme. Aku pingin ngambil suatu sekolah lanjutan yang bisa mendukung aku dari sisi bisnis. Kau tau apa yang mau aku ambil, mungkin sekolah lanjutan di bidang bisnis marketing. Kalau lebih spesifik dan kalau di Indonesia ada, aku mau ngambil sekolah Internet Business Marketing (kalau bisa yang pengajar luarnya Joell Comm atau Jay Abraham, kau tahu maksudku).

    Kemudian, untuk persentasi korelasi antara pendidikan dan karir hanya 20%, rasanya aku kurang setuju. Kau harusnya mendasarkan nilai itu dari perhitungan/analisis data yang valid, jangan main perasaan aja. Mentang-mentang 10 tahun di perusahaan multinasional “Lubang ni Sirit” lalu kau generalisasikan ke semua perusahaan dengan kondisi di sana. Aku tahu kok ada perusahaan yang korelasi antara pendidikan dan karir cukup signifikan, dan mungkin banyak.

    Yang aku lihat, pengaruh dari pendidikan tinggi adalah cara berpikir dan perilaku bergaul. Terutama yang sekolah di luar negeri, umumnya mereka punya percaya diri lebih tinggi, lebih berani dalam mengungkapkan ide, lebih ekspresif. Apalagi kalau perusahaan di mana dia bekerja masih banyak expat sebagai manajemen tingkat atas, dia akan punya akses lebih mulus untuk berkomunikasi dengan expat tsb. Karena secara alamiah orang akan mencari seseorang yang lebih familiar dengan atmosfirnya, tentunya expat tsb akan lebih nyaman dengan orang yang punya gaya berkomunikasi seperti orang bule tentunya.

    Makanya orang suka secara latah mencampuradukkan bahasa Indonesia yang kita cintai dengan bahasa Londo, supaya terkesan terdidik atau mengglobal. Is that right, buddy?

  16. Loly Says:

    Rekan-rekan semuanya, saya ingin bertanya, tentang studi satu tahun yang khusus belajar bahasa jepang di jepang. waktu itu saya pernah liat di global tv acara cool school.

    saat itu menampilkan sekolah khusus belajar bahasa jepang selama satu tahun. saya ingin mendapatkan informasi lebih detail tentang studi tersebut. bagi yang tahu saya mohon bantuan informasinya. terima kasih.

  17. helza Says:

    keberhasilan seseorang memang tidak semata2 didukung oleh tingginya pendidikan. Tapi kalau punya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi why not?, tergantung dari tujuan seseorang mencapai pendidikan tinggi. Buat saya pribadi pendidikan tinggi bukan sekedar “gelar” tapi pola pikir yang lebih baik..
    seharusnya dgn pendidikan yang lbh tinggi seseorang akan lebih menghargai segala sesuatu,lbh bijak..dan lebih rendah hati🙂

  18. edy Says:

    Salam Bang Togap.
    Lama saya mengingat, sepertinya ini Bung yang dulu kasih materi tentang EQ (alinea 8 artikel ini). Mungkin Bung tidak mengingat saya yang cuma peserta, no matter lah.
    Sepakat dengan Bung, EQ memegang peranan sangat penting dalam karir. Ada beberapa teman saya dengan pendidikan tinggi tapi kurang bisa ‘menjual’ kemampuannya, malah mentok dengan posisi mereka. Banyak lah orang sukses tanpa keharusan punya pendidikan tinggi.
    Tapi apakah ini berlaku di semua bidang kerja?

  19. Marga Says:

    Ada benarnya juga kalau untuk di Indonesia tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin keberhasilan, hal ini dikarenakan masih amat sangat banyak perushaan di Indonesia yang merupakan perusahaan keluarga.

    Saya pernah ada menjumpai S2 di sebuah perusahaan keluarga, dijadikan sebagai entry data, hal ini dikarenakan adanya lowongan saat itu entry data, tetapi dia kerjakan sungguh-sungguh dan dia banyak membantu rekan-rekannya, justru karena dia terjun langsung dan menjalani sebagai entry data dia menjadi lebih tahu dari manajernya, akhirnya saat meeting dengan boss dia bisa memberikan banyak masukan, akhirnya dia mampu menggeser managernya.

    Jadi kalau menurut saya selama ada kesempatan bisa sekolah tinggi mengapa tidak? Lagipula masa depan siapa yang tahu, belajarlah melihat segala sesuatu dari sisi positif, lakukan yang terbaik. Contohnya siapa tahu dengan S2 bisa menduduki manager atau country director, atau kalau menjadi staf biasa, lebih baik daripada staf tetapi S1.

    Lagipula untuk masa depan Indonesia ke depannya kan tidak ada yang tahu, jika lebih baik berarti banyak investor asing masuk berarti mereka pasti lebih prever oversea graduate.
    Kalau masa depan Indonesia besok perekonomiannya lebih buruk, ya yang lulusan luar masih bisa hunting kerja disana melalui sistem kontrak atau mungkin jadi asisten profesor atau lainnya…?Saya percaya pendidikan tinggi tetap dibutuhkan….kalau tidak kenapa RA. Kartini memperjuangkan pendidikan demikian juga dengan Ki Hajar Dewantara..:)

  20. Catharina Dian (Ellen) Says:

    Sepertinya ini bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.. karena toh dua2nya mempunyai arti penting dalam masa depan kita, entah itu pengalaman kerja atau tingkat pendidikan.

    Saya sendiri bukan freaker dengan sebuah gelar – apalagi ketika saya harus mencari pegawai baru – toh saya juga cuma lulusan Diploma 1 tahun dan saya sekarang menduduki posisi penting di perusahaan asing dengan umur yang tergolong muda, 24 tahun. Plus dipercaya membawa perusahaan ke kancah international. Hmm mau bilang apa?

  21. eko Says:

    hmmmm pendidikan??
    hmmmm karir??
    hmmmm kesuksesan??
    ataukah menjadi kaya raya??

    indikator??

    sebelum anda menempuh pendidikan (formal dan non-formal) sebaiknya berpikir dahulu untuk apa mengambil pendidikan yang lebih…. (pikirkan baik-baik dan renungkan) manfaat dan kerugiannya……

    sedikit pendapat ya bung

    indikator kesuksesan itu apakah kedudukan yang tinggi di suatu perusahaan? ataukah karier yang melesat jauh di banding rekan kerja yang lain? atau kah gaji yang tinggi? atau kah banyaknya kenalan yang didapat? atau kah indikator yang berupa materi lannya yang di jadikan patokan?

    terus kalo itu semua hilang? akankah menjadi suatu kegagalan? atau kah menjadi suatu bencana besar bagi yang mengalaminya?

    sebetulnya indikator apa yang tepat di gunakan untuk menunjukan korelasi yang tepat antara pendidikan dan karier?

    menurut hemat saya
    ada pepatah bagaikan ilmu padi “makin tua makin berisi dan menunduk” harusnya orang yang makin tinggi ilmunya (berpendidikan tinggi) makin tau diri, dan lebih bisa mengakomodasi berbagai macam persoalan yang dihadapinya.

    yah, negeri ini membutuhkan orang-orang yang dapat membangun negerinya dan mengerti masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, dan membutuhkan tenaga ahli yang bisa memecahkan persoalan-persoalan yang pelik, orang seperti ini hanya bisa di lahir oleh sistem pendidikan yang terstruktur untuk memperoleh keahlian khusus.

    Jadi orang dengan pendidikan tinggi tetaplah di butuhkan di negara ini, walau pun tidak menjamin dengan pendidikan tinggi orang menjadi kaya, di negeri ini tapi paling tidak bisa memberikan kontribusi (dengan keahliannya) apa yang tidak bisa di berikan oleh miliarder sekalipun.

  22. srie Says:

    Yah…
    Pendidikan….atau ……….Karir (bekerja)..,2 pilihan.

    Tergantung dari sisi mana orang memandangnya.

    Pendidikan berarti = mau berilmu, &
    Karir (bekerja) berati = mau berdoiT

  23. Atika Says:

    I agree that with the observation about the correlation of education level & career level, but I am not convinced with the validity of the presented arguments. some of them:

    “Saya tahu seseorang yang lulus dengan gelar Master dari salah satu universitas terkenal di dunia ternyata tidak pernah mendapatkan promosi. Bahkan, perusahaan melihat kinerjanya rendah dan sedang memikirkan cara yang terbaik untuk me-utilisasinya” –>
    (a. )this is only one evidence, circumstantial, we should not draw conclusion or make generalisation from it

    (b.) Also, we don’t know his/her personal conditions could it be that he/she sick, having multiple jobs? or experiencing other difficulties ?
    We need to look at this situation from more angles, if we want to logically prove the idea of low correlation between education & career level + his/her education & kinerja.

    ” … seseorang yang baru pulang dari studi S2 di negara paling maju di Eropa yang rela mendapatkan kerja apa saja. Pendidikan S2 nya tidak menolongnya mengembangkan karakter, perilaku, dan keahlihan-keahlian yang dibutuhkan untuk berhasil dalam karirnya. Sayang sekali”

    Because this is an interesting story, we’d be interested to understand it from more angles: what’s the range of “kerja apa saja,” why you conclude that pendidikan S2 tidak menolong mengembangkan karakter, perilaku dan keahlian, and how this fact relates/ relevant to the IQ v. EQ argument.

  24. ayu Says:

    Wah2 saya bener2 senang sekali membaca pesan2 yang sudah temen2 tulis berisi pro dan kontra namun semuanya memberikan inspirasi! kalau menurut saya money factor yang menyebabkan kita bingung, karena di negara kita sudah terpatri sejak dulu (khususnya dalam penggajian Pegawai pemerintah) semakin tinggi pendidikan semakin banyak gaji yang kita terima dan budaya ini sudah mendarah daging. jadi diluruskan dulu visi nya sehingga gelar apapun yang kita raih dapat memberikan kepuasan tidak hanya bagi diri sendiri namun bagi orang lain serta bangsa ini tentunya.

  25. zulfa Says:

    yang penting bukan gelar yang banyak di belakang nama kita tetapi seberapa bisa kita memaksimalkan potensi yang ada dalam diri untuk menjawab tantangan dunia.

  26. Nita Says:

    Menurut saya, pendidikan tinggi itu memang penting. Tapi sikap profesiaonal dan kesuksesan orang memang tergantung pada pribadi masing2 orang. Ada orang yang pendidikan tinggi tapi tidak punya sikap profesional dan hanya menggunakan title pendidikannya untuk menunjukan bahwa dia profesional. Dan benar, beberapa perusahaan di Indonesia hanya melihat tingkat pendidikan bahkan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi gaji yang diberikan. Ini yang saya sayangkan. Dilain pihak banyak orang-orang yang bermodalkan keberanian untuk menunjukan bahwa mereka bisa bekerja secara profesional tanpa harus mempunyai title yg diminta oleh perusahaan2. Kembali lagi pada pribadi masing2 orang. Saya hanya mempunyai pendapat, bagaimana jika perusahaan diIndonesia yg sudah berkembang memberikan beasiswa kepada karyawan yang latar pendidikan tidak terlalu tinggi tapi prestasi kerjanya terlihat dan menunjukan tingkat keprofesionalan kerjanya.Ini akan memotivasi kinerja mereka.

  27. Bernaridho Says:

    Tema ini klasik sekali. Saya ingin singgung beberapa hal saja.

    Korelasi tergantung. Apa yang dimaksud pendidikan? Sekedar
    pendidikan di sekolah? Terlalu naif.

    Apa yang dimaksud keberhasilan? Dalam aspek apa? Tidak
    ada ukuran mutlak untuk sukses.

    Lebih baik mempertanyakan efektifitas pendidikan luar rumah (persisnya sekolah/kursus) terhadap keberhasilan dalam pekerjaan yang terkait dengan materi pendidikan.

    Kalau cuma 20% materi pendidikan di sekolah yang berguna, lalu untuk apa kita sekolah? Sekedar untuk dapat gelar?

    Untuk apa sebenarnya orang bercapek2 dapat beasiswa
    via milis ini? Sekedar menjalankan ritual? Jadi, ribuan orang di milis ini mengejar beasiswa hanya untuk dapat gelar, tahu persis cuma 20% yang berguna? Dan terus lanjutkan ini ke generasi berikutnya sampai kiamat?

    Rupanya ROI pendidikan itu cuma 20%, tapi kita begitu getol mengejarnya. Baru tahu saya bisnis yang investornya (peserta didik) tau ROI cuma 20% tapi ngebet banget.

    Kalau memang begitu, jangan ngomel terhadap orang-orang yg berbisnis pendidikan. Orang2 tsb melihat ketololan kita, melihat kemalasan kita untuk mengubahnya.

    Soal EQ, SQ; itu lagu lama. Apa sih yang baru? Dari dulu orang tahu bahwa keberhasilan promosi di pekerjaan tergantung dari banyak faktor. Tak ada yang baru tentang EQ dan SQ, kecuali labelnya. Mr. Etos Jansen Sinamo pernah menulis bahwa tak ada definisi dan batasan yang jelas tentang EQ dan SQ; dan pebisnis2 (dlm bidang motivasi) bisa saja membuat istilah baru di masa depan. Itu kan seperti shampoo, katanya baru ada zat ini itu nyatanya apa ada? Saya tak percaya.

    Bernaridho
    http://www.bernaridho.com

  28. Togap Siagian Faktor Pendukung Keberhasilan Karir? « Says:

    […] Adakah Korelasi Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Karir? […]

  29. dharmawan25405072 Says:

    terima kasih atas informasi diatas dan sya melihat hal tersebut sebagai kondisi yang memprihatinkan. kalau boleh tahu menurut anda apa yang menyebabkan hal tersebut

  30. febi k Says:

    Bung Togap,

    Saya rasa kok tergantung jenis perusahaan nya juga. Kalo perusahaan konsultan ya pendidikan menjadi sangat berpengaruh..

    Pendidikan di tambah experience akan menghasil kan output yang baik..

    Kalo ada kesempatan mengambil pendidikan (mendapat beasiswa) ayo putra2 terbaik bangsa..ambill saja…Do the Best..Indonesia membutuhkanorang2 seperti kalian.

    Pendidikan(ilmu) ga ada mati nye…;)

  31. Reiny Says:

    Mengutip dr email tetangga:

    “For one year of prosperity plant grain.
    For ten years of prosperity plant trees.
    For a hundred years of prosperity educate people”

  32. deditaba Says:

    pendidikan adalah sejatinya untuk meningkatkan harkat, martabat, prilaku, pola berfikir, pola bertindak, sopan santun, tutur kata dan lain-lain.

    selain itu dikembangkan pedidikan keahliah seperti akunting, fotogrphy, yang cenderung mekanis.

    setiap orang dapat kaya tetapi tidak setiap orang dapat menjadi manusia terdidik, gelar hanya efek dari pendidikan bukan tujuan.

    kalo hanya hidup hanya semata-mata cari uang ya emang ga perlu pendidikan tinggi sekali, tapi untuk menjadi manusia yang bijak mungkin diperlukan pendidikan: macam2 pendidikan.. agama, filsafat, budaya, ekonomi dlll

  33. modivo Says:

    memang tingkat pendidikan tidak menjamin orang berkarir sukses tapi, pola pikir akan mempengaruhi orang dalam berperilaku, bgmn ia akan beraktualisasi thd dirinya

  34. azis yaumil (kobe) Says:

    saya dulu pernah sekolah di sebuah sekolah internasional dan pernah berorganisasi dan mengerjakan proyek film, buku tahunan, seragam angkatan sekolah , dan study tour sekolah saya kewaduk jati luhur dan waduk cirata
    yang saya temukan adalah tingkat kepintaran seseorang tidak terlalu berpengaruh malah anak yang secara kepintaran lebih rendah malah menjadi mesin penggerak dari semua proyek itu
    kemampuannya yang tidak pernah menyerah dan kemampuannya untuk memotivasi teman-temannya untuk terus bekerja serta kemampuannya berdiplomasi membuat teman-temannya menjadi percaya padanya dan mampu untuk mendobrak birokrasi yang sulit disekolah nya
    dan pada tahap ini saya menjadi mengerti bahwa tingkat kepintaran atau keilmuan yang tinggi tidak terlalu berpengaruh malah yang berpengaruh adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah dan memecahkannya…

  35. herry Says:

    saya setuju setuju saja, karena pada saat ini, banyak sekali kasus terjadi, kalau orang berpendidikan itu, ujung2nya jadi pedagang, tkg tambal ban, dll

  36. abdon siahaan Says:

    Begitu banyak tanggapan yg telah kita bahas, seputar pendididkan, karir semuanya itu berpulang kepada kita. hasil riset dan statistik lebih banyak orang sukses yg dalam pddkkan formalnya biasa-biasa saja. tetapi setelah saya jalani untuk pintar dan mempunyai IQ yg tinggi sangatlah pentingnya. apalagi dibidang IT dan informatika khususnya pada zaman abad 21 ini.
    Saya mempunyai beberapa buku tentang bisnis dan ilmu disiplin lainnya. secara rata-rata tentu bila orang berpendidikan tinggi yg mempinyai kualitas akan lebih mudah mencari pekerjaan dari pada sebaliknya,

    Jadi Pendidikan itu sangatlah PENTING !!!
    IQ dan EQ dalam menjalani hidup haruslah diseimbangkan
    Sukses dan dapat Promosi juga Kaya semua itu didapat seiring dengan perjalanan hidup kita yang artinya :

    si ANTO jadi Pejabat atau Pengusaha Sukses tidak tertutup kemungkinan datang yang tak pernah diimpikannya atau mungkin cita-citanya tentu kerja keras yg membuatnya sukses seiring dengan perjalanan kehidupan ini.

    Si BADUl dapat Promosi dan jabatan yang semakin baik karena tingkat pendididkannnya yang tinggi itu juga adalah suatu prjalanan hidup, dan didalam hidup ini seseorang bisa saja sukses dan tidak,

    Demikian kawan-kawan

  37. bang cepi Says:

    Lihat lah…semua…komentator di atas adalah Orang – orang yang OPORTUNIS….sadari itu..!

    mungkin karena saudara2/i adalah orang yang sangat berilmu tinggi dengan lulusan universitas terkemuka…Hebat…seperti hidup akan seribu tahun saja…sampai bisa membandingkan antara si kurang dan si lebih, si kaya dan si miskin, si staf dan si direktur (intinya begitu)..kalau begitu…apa makna hidup buat saudara semua…..mhhhhh jangan2 hanya perut dan isinya saja….

    hidup sudah ada yang mengaturnya….. si S3 dan si **bukan S3 pun tidak ada yg tahu bagaimana hisupnya kedepan….mungkin terganung mereka saja yang mengalaminya dan memperjuangkannya..

    maaf ini dari tulisan saya yang hanya lulusan biasa2 saja bukan seperti anda semua….

    salam..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: