Mengubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan

Catatan: Tulisan ini adalah tanggapan atas komentar dan pertanyaan yang ditinggalkan Rastri dalam posting saya sebelumnya “IPK Rendah dapat Beasiswa – Mitos atau Fakta“.

Dear Rastri,

Ada yang pernah mengatakan: “if you keep on doing what you’ve always done, then you”ll keep on getting what you’ve always got“. Jadi kira-kira artinya, kalau kamu selalu melakukan hal yang sama, maka kamu akan selalu mendapatkan hal yang sama. Saya pikir ini suatu “hukum” yang cukup benar. Artinya, untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda, kamu harus melakukan hal tersebut dengan cara yang lain.

Untuk kasus kamu, dari 10 kali kamu mengirim aplikasi, kamu harus sudah belajar dari hal tersebut. Kebanyakan orang yang sukses, bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Melainkan orang yang pernah gagal, dan kemudian belajar dari kegagalan tersebut. Bagi mereka, seperti pernah saya tuliskan, kegagalan adalah umpan balik. There is no failure, only feedback.

Pertanyaannya, bagaimana belajar dari pengalaman kamu tersebut. Cara yang paling mudah, tanyakan pada diri kamu sendiri: sudahkah kamu memenuhi semua persyaratan yang diminta? Kalau kamu membaca tulisan saya tentang mindset, kamu bisa melihat bahwa saya belajar dari dua kali kegagalan saya. Saya mengubah sesuatu.

Cara kedua untuk belajar, adalah dengan menghubungi profesor di sekolah yang kamu tuju. Ini adalah strategi dari para mahasiswa India. Saya suka salut dengan semangat mereka untuk mendapatkan sesuatu. Saya kira kita harus banyak belajar dari mereka. Di salah satu situs tempat calon mahasiswa India berkumpul, saya membaca pengalaman seseorang yang setelah menerima penolakan, menghubungi profesor di jurusan yang dituju untuk mengetahui penyebab kegagalannya. Jadi dia tidak bermaksud untuk meminta belas kasihan dari profesor tersebut, tetapi untuk memperoleh feedback. Tapi somehow, profesor tersebut tersentuh, dan saat ada calon mahasiswa yang mengundurkan diri, si orang India mendapatkan kesempatan tersebut.

Nah selain itu, dari tulisan kamu, kamu juga terlihat sudah mengetahui kekurangan kamu, seperti IPK, TOEFL, kemampuan cas cis cus dalam bahasa Inggris, pengalaman kerja, etc. Hal yang kamu perlu lakukan selanjutnya adalah memisahkan antara kekurangan yang bisa diubah dan tidak bisa diubah.

IPK jelas-jelas sesuatu hal yang kamu nggak bisa ubah. Let’s not talk about it. Tapi TOEFL, seharusnya bisa diubah. Demikian pula kemampuan cas cis cus. Kamu bisa belajar untuk meningkatkannya. Ada bermacam cara tentunya.

Pengalaman kerja pun bisa diperbaiki. Seorang member milis beasiswa bercerita lewat yahoo messenger kalau dia memenangkan beasiswa setelah lima kali gagal mencoba. Apa yang berbeda yang dilakukannya? Dia pindah kerja dari perusahaan swasta ke LSM. Dia mengubah pengalaman kerjanya.

Memang ada pengorbanan. Dan memang begitulah seharusnya. Semangat besar saja tidak bisa membawa saya atau kamu ke keadaan yang ingin kita capai. Harus ada strategi. Juga harus ada pengorbanan dan usaha. Dan tak lupa, minta dukungan dari Yang Di Atas. Seperti yang telah ditulis oleh seseorang dalam komentarnya, usaha yang keras akan mendapat bantuan dari Yang Di Atas.

Sukses buat Anda.

13 Responses to “Mengubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan”

  1. qonita Says:

    sependapat, bung togap. memang semua itu karena perubahan yg kita lakukan sendiri. soal ipk memang susah diubah, tapi toefl bisa banget diubah.

    o iya, ngomong2 soal ipk, ada kok pemberi beasiswa yg memang pasang batas ipk. kalau sudah begini, memang kita gak boleh berharap terus ke situ kan. misalkan ada kampus atau negara yg tidak kita sukai tapi mau kasih beasiswa utk ipk kita, maka kita gak boleh “gengsi” lagi kan. coba dulu di tempat yg ada. istilahnya “batu loncatan”. begitu bukan?🙂

    jadi musti baik2 perhatikan kesempatan beasiswa, jangan membidik “beasiswa terkenal” saja. krn di tempat yg terkenal pasti saingannya banyak.

    salam!

  2. erly Says:

    saya setuju dalam hal ini, krn memang kegagalan itu adalah awal dr keberhasilan asal kita jgn putus asa,,pengalaman saya juga seperti ini, sering gagal, apalgi dlm mendapatkan pekerjaan, nah skrng saya sdh lebih baik dlm pekerjaan tinggal saya ingin melanjutkan sekolah lagi dr D3 ke S1 dan cita2 juga ingin dapatkan beasiswa k luar negeri, tp sy hrs benar2 belajar, dan semuanya butuh proses. thank you. makasih yah atas topiknya.

  3. Sisca Says:

    betul sekali pernyataan di atas, krn saya kenal seorang teman yg ipk-nya dibawah 3.00 tapi tetap usaha dan kerja keras shg bisa dapat beasiswa ke Swedia tahun 2003 lalu.

  4. Takdir Says:

    I Agree with him/her. Aq setuju bahwa IPK tidak menjamin kesuksesan seseorang begitupula deskriminasi antara PTS & PTN. Yang menjadi jaminan untuk sukses adalah dari skill & Ability kita. Belum tentu lulusan PTS tidak bisa bersaing dgn PTN.

    Best Regards

    Takdir
    Mahasiswa STIE Lamaddukkelleng Sengkang Kab. Wajo, Sul-Sel.
    Public E-mail : seventeen_lv@yahoo.co.id

  5. weni Says:

    Sy br tahu kalo tyt IP rendah bs mendpt beasiswa ke LN. Sy termasuk slah satu org yg tadinya punya keinginan utk mendapat program belajar S2 atau apa saja yg dapat menambah knowledge di bidang management atau pendidikan di LN. Tapi akhir2 ini semangat itu pupus krn sy melihat prosedur dan persyaratan yg yg tdk mudah. Tapi semangat sy jd terguagah stlh membaca kesaksian ttg IP rendah yg bs mendapat beasiswa ke LN. IP sy memenuhi syarat, tp blm pernah ikut test toefl. Dan yg terutama skill sy sifatnya umum, maksudnya tdk istimewa.
    kalau mau ikut beasiswa yg tdk terkenal / populer gmn caranya dan di web apa? unt ikut LSM caranya gmn? Thk’s bgt buat masukannya..

  6. Mas Gagah Says:

    Arghhhhhhhhh
    Pasti bisa ya?
    Harus Yakin Pasti bisa

    Pasti Bisa,

    Pasti BIsa
    Pasti BIsa

    Pasti Bisa

    Terimakasih sharing dan Ilmunya🙂

  7. qonita Says:

    menurut saya, tidak populer = tidak populer negaranya sebagai tujuan belajar. akan jadi pengalaman yg menarik juga karena di sana tidak banyak orang indonesia. kalau mau beasiswa yg tidak populer, memang harus rajin cari di internet, dengan keyword nama negaranya. atau tanya ke kedubes negara tsb.

    tentu saja di mata mereka orang indonesia juga tidak populer, tidak dikenal sebagai pelajar di negaranya. sehingga, pendekatan personal (ke profesornya) itu penting.

  8. p0ko Says:

    waaah, bener tuh bener! Semangat!
    oh y, ad 1 lagi lho cara biar kita bener2 dapetin beasiswa!
    yaitu dgn cara cerita ke orang2 dan minta doa restunya. Kan katanya kalo didoain 40 orang (insya Allah) akan dikabulkan. amiiiiiiiiin. hehe, tapi selain itu juga karena semua orang udah taw dan terus menerus nanya kpn keberangkatan qt, jadi kerasa ada sense of urgency sehingga kita lebih terpacu lagi mncari dan mendapatkan beasiswa yang ada!
    saran ini mungkin agak ngaco sih……but i’m doing it anyway…..;-P
    Yosh, ganbatte minnasan!!!!!!!!!!!!!!!!!

  9. Rina Says:

    Saaluuut!!! Betul banget,sebetulnya yang ngalahin kita cuman pikiran kita sendiri (what matters most is how u see ur self) SOOo inget bahwa Thomas Alfa Edison nemuin 99 cara untuk gagal sblm akhirnya nemuin 1 cara yg bnr bwt sukses…
    Yuq sama2 saling mendoakan supaya mindset qt tetep positif!!!

  10. Sony.,.,SMK N 1Bangkinang Class 3 Tekhnik Komputer Jaringan Says:

    bagimana cara dapat beasiswa,.,.karena saya ingin kuliah,.,.,.please kasih tahu caranya ke sony_wirayudha@yahoo.com

  11. sofi Says:

    saya mau bertanya satu hal lagi. Setelah saya baca-baca isi milis ini,sepertinya untuk mendapatkan beasiswa itu harus punya pengalaman kerja. Bagaimana kalau seandainya saya ingin langsung melanjutkan k S1(dari D3, pertanyaan saya sebelumnya) atau ke S2 dengan langsung (tanpa bekerja terlebih dahulu). Karena saya ingin menjadi dosen, dan syarat menjadi dosen kan pendidikannya minimal S2, olehkarena itu saya ingin langsung melanjutkan study, tidak bekerja terlebih dahulu.
    Terimakasih.

  12. mpit Says:

    Dear Mbak Rastri,
    Saya juga dulu persis sama seperti mbak, persisnya sekitar 2 tahun yang lalu begitu saya lulus kuliah.
    Saya berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan untuk biaya wisuda saja, orang tua saya harus hutang ke sana-ke mari.
    Kamudian, keitka itu juga saya sangat susah mendapatkan pekerjaan. Sayapun melamar beasiswa dua kali (Fullbright dan ADS) dalam segala keterbatasan biaya yang saya punyai. Dan saya…GAGAL.
    Saya waktu itu benar-benar frustasi. Namun, saya beruntung karena keluarga saya terus mensupport cita-cita saya untuk bersekolah setinggi mungkin.
    waktu itu lalu saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di UGM dengan beasiswa alumni UGM. Saya bersyukur karena kali ini saya lolos seleksi untuk dapat beasiswa. Berangsur-angsur kepercayaan diri saya pulih karena saya dihadapkan pada suasana akademik yang lebih “matang”, dengan banyaknya konferensi, workshop, penelitian, dan bertemu dengan banyak profesor asing.
    Sayapun sedikit demi sedikit mulai memahami mengapa saya gagal dalam mendapatkan beasiswa. Ternyata semua itu terletak pada pengalaman akademis saya : saya waktu itu tidak punya publikasi dan hasil penelitian, bahasa Inggris yang kurang memadai, dan…yang yang terburuk…rasa inferior ketika mendaftar beasiswa (karena saya dulu miskin pengalaman dan berasal dari keluarga tidak mampu).
    Saya pun belajar dan berusaha keras untuk “mengejar” ketertinggalan saya. Saya giat belajar bahasa Inggris dan bahkan kini sudah punya beberapa tulisan berbahasa Inggris di jurnal nasional maupun internasional. Saya mulai berani untuk “unjuk gigi” memberikan tulisan di surat kabar sekaliber Kompas. Saya juga kini jauh lebih percaya diri dalam melakukan presentasi ketika konferensi maupun wawancara. Saya juga selalu berusaha menambah wawasan setiap hari dan memperbaiki gaya menulis proposal saya, serta mencari info sebanyak-banyaknya di internet.
    Alhamdulillah, Tuhan “melihat” kerja keras saya. Tahun lalu saya berkesempatan mendapat beasiswa untuk summer university di Austria selama tiga minggu. Tidak sampai setahun kemudian, saya sudah menikmati indahnya Singapura dan fasilitas pendidikannya melalui sebuah fellowship. Dan bahkan, hanya selang tiga bulan selanjutnya, saya melanjutkan kembali “petualangan” fellowship saya ke Belanda. Kini saya sedang mempersiapkan secara teliti untuk melamar beasiswa S3 ke luar negeri.
    Sekali lagi, mbak Rastri, jangan pernah menyerah. Anda tidak gagal, hanya mungkin “ditunda” keberhasilannya oleh Tuhan, sehingga Anda bisa merenung dan memperbaiki kegagalan Anda dalam melamar beasiswa di tahun-tahun sebelumnya. Oya, yang paling penting, janganlah terus dibayangi oleh “kegagalan” Anda. percayalah bahwa Anda termasuk orang spesial yang akan mendapatkan beasiswa, asalkan ada perjuangan.
    Salam manis dan tetap semangat ya! (^_^)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: