Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa

Mindset: A fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations. Answers.com

Perburuan saya mencari beasiswa dimulai setelah saya bekerja di sebuah perusahaan tambang asing di timur Indonesia. Saya ingat beasiswa pertama yang saya coba adalah beasiswa dari Australia, yaitu The Australian Development Program. Hanya bermodal keinginan kuat dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi, saya mengirimkan lamaran saya tanpa dilengkapi beberapa dokumen yang diperlukan. Itu pengalaman pertama saya, dan hasilnya bisa diramalkan: gagal.

Percobaan kedua, beasiswa Chevening Award dari negara Inggris yang menjadi sasaran saya. Seingat saya, salah satu persyaratan beasiswa ini adalah menulis esai. Dokumen dokumen yang diperlukan sudah saya peroleh. Tetapi untuk urusan esai, wah, saya benar-benar cuek. Esainya saya tulis seadanya tanpa memperdulikan isi tulisan, struktur, dan lain-lain. Hasilnya lagi-lagi bisa diramalkan: gagal deuy!

Yang ketiga dan, syukurlah, yang terakhir saya mencoba beasiswa Fulbright dari negara Amerika Serikat. Untuk yang terakhir ini, persiapan saya jauh lebih matang. Pertama, selama sebulan penuh saya belajar mengerjakan soal-soal ujian TOEFL. (In case kamu bertanya, saya menggunakan buku terbitan Barron’s). Teman-teman yang mengunjungi rumah tempat saya tinggal bisa melihat bagaimana setiap malam saya sibuk berkutat dengan buku tersebut. Saya membuat target untuk menyelesaikan sepuluh soal setiap malamnya. Bukan hanya saya kerjakan sambil lalu, tapi saya pastikan setiap kali saya mempunyai masalah, saya mendapatkan penjelasan yang baik.

Kedua, sekali ini, saya bela-belain bolak-balik Jakarta Bandung hanya untuk mendapatkan surat rekomendasi dari dua orang dosen yang cukup saya kenal. Benar, yang diminta hanya satu surat rekomendasi. Tapi kali ini, saya tidak mau membuat kesalahan. Saya pastikan saya mendapatkan surat rekomendasi dari kedua dosen saya tersebut.

Ketiga, saya benar-benar belajar untuk menulis esai. Saya luangkan waktu saya beberapa jam di Internet hanya untuk mencari contoh-contoh esai yang baik. Selain dari pelatihan menulis laporan yang saya terima di tempat saya bekerja, saya tidak punya pengalaman lain dalam menulis. Karena itu, saya berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya. Berkali-kali saya meminjam buku-buku di perpustakaan yang saya pikir bisa memberikan pencerahan buat saya dalam menulis esai. Majalah-majalah asing, seperti Time, Newsweek, dan Fortune, saya “lahap” hanya untuk mengerti bagaimana sebuah tulisan menjadi menarik untuk dibaca hingga selesai.

Hasilnya tidak sia-sia. Sekali ini, saya berhasil. AMINEF memanggil saya untuk mengikuti wawancara di Jayapura. Dan akhirnya, saya berhak menyandang gelar “Fulbright Scholar” di tahun 2000. (Tidak terasa ternyata sudah 7 tahun berlalu!)

Semua hal tersebut seolah-olah saya rasakan kembali ketika beberapa waktu lalu saya dan teman-teman moderator milis beasiswa mendapat kesempatan untuk berbagi informasi dan cerita di salah satu universitas di Jakarta. Tapi kilas balik tersebut saya rasakan bukan karena seseorang menceritakan perjuangannya mencari beasiswa. Justru itu saya rasakan karena pertanyaan yang, bagi saya, nadanya sedikit pesimis dari salah seorang peserta acara seminar tersebut.

Pertanyaannya simpel,”Apakah dengan IPK saya yang hanya sedikit di atas 3,00 saya bisa mendapatkan beasiswa?”. Pertanyaan tersebut seolah-olah menggambarkan kalau dengan IPK yang pas-pasan tersebut, tidak ada lagi harapan bagi si penanya. Seolah-olah IPK adalah harga mati yang membuat seseorang tidak bisa (atau bisa) mendapatkan beasiswa. Cepat saya menjawab,”Saya juga IPK-nya segitu kok”. Ya, benar. Walaupun harus malu mengakuinya, IPK S1 saya cuma 3,0x (x nya isi sendiri). Kenyataannya, saya mendapatkan beasiswa tersebut. Kenyataannya, di tahun 2002 saya kembali ke Indonesia sebagai Fulbright Scholar dan ditambah embel-embel MBA.

Jawaban saya ternyata tidak memuaskan penanyanya. Sekali lagi dia maju dan berkomentar, “Mas Togap kan kerja di PT XXX. Jadi ya wajar dong kalau dapet beasiswa tersebut. PT XXX itu kan salah satu penyumbang untuk beasiswa itu!”. Oh well, memang benar saya saat itu tercatat sebagai karyawan di PT XXX. Juga benar, kalau saat itu PT XXX adalah salah satu penyumbang untuk beasiswa Fulbright. Tapi terus terang saja, sekalipun saya tidak pernah berpikir kalau itulah yang menjadi alasan saya mendapatkan beasiswa itu!

Komentar dan pertanyaan yang seperti ini terasa agak menyedihkan buat saya. Karena komentar dan pertanyaan itu lebih terasa menghakimi diri sendiri buat penanyanya daripada menginginkan diskusi. Saya merasa kalau penanyanya dengan menanyakan hal itu justru mencari justifikasi buat ketidakmampuannya untuk mendapatkan beasiswa. Bahkan sebelum dia mencoba, dia sudah berpikir dan “merasakan” kalau dia tidak akan mendapatkan beasiswa tersebut.

Kenyataannya, walaupun belum pernah melakukan survey, saya yakin ada banyak orang Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa walaupun hanya dengan IPK yang cukupan. Bahkan di milis beasiswa, saya ingat pernah membaca cerita tentang seseorang yang mendapatkan beasiswa dengan IPK kepala 2 alias 2,xx! Isn’t it something?

Saya yakin semua ini hanyalah masalah mindset atawa cara pandang. Mindset-lah yang menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu hal.

Dalam buku Mindset, Carol Dweck PhD menjelaskan bahwa di dunia ini terdapat dua tipe manusia. Tipe pertama, adalah orang-orang yang mempunyai mindset berkembang. Manusia dengan tipe ini melihat semua kesempatan sebagai proses untuk mengembangkan diri. Manusia tipe ini juga percaya bahwa mereka dapat mencapai segala sesuatu dengan memfokuskan usaha mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tipe kedua, adalah tipe mindset tetap. Manusia dengan tipe ini percaya bahwa kemampuan mereka adalah hasil dari bakat. Mereka percaya bahwa bakatlah yang membawa mereka pada keberhasilan. Karena yang diperlukan hanya bakat, yang nota bene dibawa dari lahir, mereka percaya bahwa usaha tidak diperlukan untuk mendapatkan pencapaian yang mereka inginkan. Dengan bakat yang mereka miliki, dengan sendirinya mereka akan memperoleh hasil. Tapi di sisi lain, tanpa bakat, mereka percaya mereka tidak mungkin mencapai hasil tertentu. Karena itu, orang-orang dengan mindset tetap percaya kalau mereka tidak perlu berusaha (make an effort). Bahkan, bagi mereka, usaha adalah sesuatu yang perlu dihindari. Karena semuanya datang karena bakat, tentu saja tidak ada pentingnya berusaha. Berusaha justru menunjukkan kalau seseorang tidak mempunyai bakat. Dan karenanya bagi mereka, orang yang melakukan sesuatu dengan usaha yang keras sesungguhnya adalah orang yang gagal.

Bagi manusia mindset tetap kegagalan adalah sesuatu yang harus dihindari. Berbeda dengan manusia mindset berkembang, yang menganggap kegagalan adalah satu pengalaman penting untuk belajar kembali. Dari satu kegagalan, kita harus belajar untuk keberhasilan di waktu yang lain. Menarik bahwa konsep neuro-linguistic programming (NLP) mempunyai satu asumsi awal (presupposition) yang sama. Yaitu bahwa kegagalan adalah suatu feedback. There is no failure, only feedback.

Cara pandang mindset berkembang ini memberikan kemerdekaan bagi penganutnya. Mereka merdeka dalam arti kegagalan tidak lagi membelenggu jiwa mereka. Kegagalan justru membebaskan, karena lewat kegagalan mereka memperoleh pembelajaran (learning). Dan, in the end, pembelajaran membawa keberhasilan.

Kembali ke masalah IPK dan beasiswa, bagi manusia dengan mindset berkembang, IPK hanyalah satu faktor dalam mendapatkan beasiswa. Buat mereka, jika IPK sudah keburu hancur, mereka akan mencari faktor lain yang akan menolong mereka mendapatkan beasiswa itu. Dalam salah satu email saya di milis beasiswa, saya pernah tuliskan bahwa selain IPK, banyak hal lain yang bisa memberikan nilai tambah dalam mendapatkan beasiswa. Misalnya, karir yang bagus seperti ditunjukkan dalam surat rekomendasi dari atasan. Keberhasilan lain dalam masyarakat juga bisa ditonjolkan dan menjadi faktor penentu dalam mendapatkan beasiswa. Buat yang senang riset, mungkin yang dilakukannya adalah mencari topik riset yang memberinya kesempatan lebih untuk mendapatkan beasiswa. Buannyakk lagi cara yang bisa dilakukan. Seorang anggota milis beasiswa pernah bercerita kalau dia berhasil memenangkan beasiswa di usahanya yang kelima setelah dia berpindah kerja dari sebuah perusahaan swasta ke LSM! Jadi banyak hal yang bisa dilakukan.

Untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri pun, bukan hanya lewat beasiswa. Member milis beasiswa, Lina, sukses melanjutkan kuliah di Jerman setelah selama setahun bekerja sebagai au-pair. Tugasnya mengawasi anak-anak keluarga tempatnya bekerja. Member yang lain sukses kuliah di Amerika Serikat dengan sistem kamikaze. Artinya, nyemplung dulu ke negara Paman Sam tersebut, dan kemudian berusaha mencari tambahan duit dan beasiswa di sana. (Ternyata beneran buuaanyyakk cara yang bisa dilakukan, kan?)

Perlu dicatat, bahwa orang dengan mindset tetap pun banyak yang memperoleh keberhasilan. John McEnroe, seorang petenis yang terkenal di tahun 80-an, adalah contoh manusia dengan mindset tetap. Tapi dengan segala keberhasilannya, John juga dikenal sebagai pemain tenis yang pemarah dan suka menyalahkan faktor lain di luar dirinya saat harus menerima kekalahan. Menurut Carol Dweck, John McEnroe is a very good example of a person with fixed mindset.

Pada akhirnya, menjadi seseorang dengan mindset tetap atau mindset berkembang (growth mindset) adalah perkara mau memilih yang mana. Anda yang telah mempunyai mindset berkembang, bersyukurlah. Selama Anda mau berusaha, kesuksesan bersama Anda. Sedangkan Anda yang mempunyai mindset tetap, ingatlah bahwa Anda mempunyai pilihan untuk menjadi seseorang yang ber-mindset berkembang. Selama Anda merasa nyaman dengan mindset tetap Anda, it’s fine. Tapi Anda tahu bahwa Anda selalu dapat berubah (dengan latihan) untuk menjadi manusia ber-mindset berkembang.

Klik di sini untuk membaca artikel singkat tentang penelitian Prof. Carol Dweck.

64 Responses to “Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa”

  1. anonym Says:

    salut buat bang togap..
    mindset inilah yg penting..

  2. afitchan Says:

    Mindset membuat langkah kita meraih impian lebih fokus dan percaya diri dan diiaratkan sebuah kompas, klo kita tersesat di suatu tempat. Sekarang daku tersesat di Benua Kanguru, Untungnya ada Kompas Mindset bahwa saya harus menyelesaikan study hingga tamat hehe…Good Luck for those who has flexible mindset

  3. wili Says:

    stuju bang..^^ we are what we think.. kl blum apa2 dah mikir ga bisa.. hehe.. ampe kapan pun ga bakalan pernah bisa.. ^^

    Fighting..^^

  4. Yukni Says:

    makasih atas motivasinya. sy tmasuk yg IPK nya cuma 2,9x tp sy berambisi utk bs S2 di luar negeri. sering-sering nulis artikel motivasi kaya gini yah mas togap

  5. kyko Says:

    aslm…sepertinya sy termasuk mindset berkembang walopun blum ada usaha yg nyata untuk membuktikan itu. yang jelas,dgn mindset tetap itu jelas sekali we’re going nowhere dan dgn mindset berkembang we’re going somewhere…hehehe..sering2 buat postingan kyk gini ya mas…

  6. evan sirait Says:

    Tulisan yang sangat bermanfaat bang Togap, mudah2 dapat memicu semangat para pemburu beasiswa.

    Sedikit saya berkomentar, menjadi seorang yg memiliki mindset berkembang itu memang sangat penting dan baik, saya yakin banyak diantara kawan2 yg membaca artikel ini akan langsung berada pada ‘posisi’ mindset berkembang tetapi nanti mungkin setelah beberapa lama dan mengingat berbagai kesulitan yang dihadapi mindset itu bisa berubah/menurun ke level yg lebih rendah bahkan bisa2 menjadi mindset yg tidak jelas. seolah memiliki mindset berkembang dan sekaligus mindset tetap juga. Saya sendiri kadang2 mengalami saya menjadi sangat antusias dan bersemangat ketika melihat sebuah harapan walau sekecil apapun, tapi ketika semuanya ‘gelap’ seolah tidak ada jalan keluar tiba2 semangat menjadi drop dan butuh usaha yg ekstra keras lagi agar bisa kembali bersemangat.

    Mengingat mindset itu dapat berubah dan dapat dilatih mungkin perlu sebuah alat bantu yg teruji utk membuat kita tetap konsisten berada di posisi mindset berkembang, mis. mungkin motivasi yang kuat dan benar,dll tergantung masalah dan org permasalahan yg dihadapi.

  7. eci Says:

    yup!
    that’s totally correct….perpaduan yang lengkap adalah mindset+semangat…klo udah ada mindset untuk berkembang ditambah semangat untuk maju,everything possible!

  8. Hesti Says:

    kemarin2 saya sempat kehilangan semangat untuk cari studentship buat lanjut ke S3. tapi tulisan ini membangkitkan kembali semangat saya. thanks for sharing.

  9. awdrey Says:

    wow, thanks…
    tulisan ini menyemangati saya untuk mencoba mencari beasiswa lagi, maklum IPK saya kepala 2 bahkan dibawah 2,75 ^_^”
    harus berusaha lebih keras lagi nih😀

  10. Togap Says:

    To Evan:

    Ya, setuju sekali kalau mindset memang bisa dilatih. Saya juga terus menerus berusaha melatih mindset saya🙂. It’s a long and never ending journey. Tapi a very enjoyful one.

    Buat rekan-rekan yang termotivasi, mantap! Sukses dengan usahanya!

  11. yoki kuncoro Says:

    Wah makasih atas pencerahannya bang Togap. Terima kasih…

  12. elisabeth elis Says:

    Thanks banget udah jadi tim support di milis ini ya p’togap. Seneng banget deh bisa baca blog ini. Saya jadi punya semangat. Karena saya pengen dapet beasiswa untuk training guru. Thanks a lot ya…..

  13. dicky bartha Says:

    Selamat pagi bang togap…

    Wah membaca artikel mas benar-benar “encourage” saya.Ipk emang kadang-kadang bikin mati semangat para pemburu bea siswa kyak kita2 yang punya dompet cekak ini.Saya setuju sikap selalu menjaga optimisme hati dan tekad dengan hati menerima apapun kondisi kita(ip pas2an,karier datar2 aja,…macem2 yang lainnya) toh kita juga udah maksimal dalam hidup dan bekerja.

    Bang Togap, lihat sejarah hidup panjenengan,sy jd tergerak tuk ngasih komentar…karena apa? sy skrg tinggal nun jauh dr tanah jawi di pulau borneo timur jd abdi negara ngurusin penerimaan buat dompet negara.

    Terakhir saya minta referensi buku menulis essay yang benar dong,atau info tempat nyari buku2 TOEFL and vocabulary builder yang keren dong ? . Tetap semangat jd pemburu harta karun ilmu ke negeri sebrang !!!!!

    Matur Nuwun

    dicky bartha

  14. Togap Says:

    Dicky,
    Thanks buat komentarnya. Tentang menulis esai, kamu bisa baca di buku Kiat Memenangkan Beasiswa. Ya, sekalian promosi buku tulisan saya dan Ibu Pangesti ini. hehehe..
    Kalau mau tahu cara membelinya, buka aja milisbeasiswa.com.

  15. Elvira Says:

    Benar sekali bahwa apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi apa yang kita lakukan. Apa yang kita yakini dan imani, seberapa positif kita memikirkan sesuatu akan mempengaruhi dampak dari pemikiran tersebut.
    Kata banyak,”Orang yang banyak berpikir akan mudah stress dan sakit, dan orang sedikit berpikir akan relatif ‘aman’, tidak mudah depresi atau stress.”
    Tetapi sebenarnya, “Orang yang lebih baik dan berkembang adalah orang yang banyak berpikir, tetapi berpikir dengan positif.”
    Sukses selalu untuk Anda…
    Saya masih belajar melihat peluang beasiswa LN.

  16. Meutia Says:

    I was wondering to get a schoolarship for continuing my study to the Bachelor degree. But, somehow too many difficulties that i have to face on. I admitted my ability in english was not enough to go there, especially applying the Toefl test, I always worried and hard to understand the questions. Eventhough, As you has been mentioned that Mindset played an important role. Thus, I just want to ask, with secretarial background (diploma), Is there still have opportunities for me to be accepted in applying the scholarship abrod?
    Many thanks,
    Meutia

  17. ditdit Says:

    hee..ternyata si mind set of mine itu toh yg bikin ak membatasi diri sendiri utk mengikuti seleksi kerja or beasiswa jika salah1 persyaratannya adalah IPK..
    thx y bang togap atas pencerahannya😉

    btw ak sdg mmprsiapkan berkas2 utk beasiswa ke King Saud Univ. di Arab Saudi, tapi ko ak ngerasa syarat2nya aga berbeda dgn beasiswa lainnya yg pernah ak baca, terutama no 3 dan 4.
    1. Nilai TOEFL min.550, 2.Ijazah&Transkrip legalisir,3.SKKB,4.SK.Sehat (kesemuanya dlm bhs inggris or ditranslate oleh penterjemah tersumpah).
    dan yg bikin berat utk seorang honorer LND spt ak, berkas harus dikirimkan by pos ke KBRI di Riyadh…
    apa mungkin karena ini kali pertama ku ngirim beasiswa ya bang???
    once again,thx so much

  18. Sekali Lagi tentang Mindset « Togap Siagian Says:

    […] 9th, 2007 Tulisan saya bertajuk “Pentingnya Mindset dalam Mengejar Beasiswa” mendapatkan banyak tanggapan positif dari banyak orang. Salah satunya adalah tulisan Bapak […]

  19. suandana Says:

    setuju, pak… I will never give up…

  20. tenri Says:

    i agree. Rasanya justru yang meragukan diri sendiri dengan mundur sebelum berperang pasti kalahlah. Kegagalan bukanlah suatu kekalahan, tapi itu merupakan pintu menuju keberhasilan. terus berjuang,,,,

  21. Jimbo Says:

    Well, congrats on your scholarship. I believe your working history had something to do with it. And I also believe in luck. And I met a very intelligent man who reject the scholarship from USA, now he produces at least 50 millions rupiah /month. Some people has its own priority and I think I will follow him because he hired so many intelligent workers and I hardly see an intelligent man hired rich men. Anyway, congratulations!

  22. Togap Says:

    Dear Jimbo, good luck on you! If you think that that’s what you want, then why not? Go ahead and focus on it. Life offers a lot of options. Getting a scholarship is just one. Making lots of money also is just another one. In everything you do, a positive mindset helps you to succeed.

  23. Angel Says:

    Yup, mindset atow cara pikir seseorang itu yang menentukan jalan hidup seseorang,hidup adalah pilihan, karena orang dengan cara pandang sempit hanya akan membuat dirinya makin sempit, karena melihat sesuatu selalu dari sudut pandang yang hampir selalu negatif.
    Usia, status sosial, latar belakang pendidikan bukan ukuran mind set seseorang, buktinya banyak orang2 yang usianya sudah dewasa tetapi belum bisa memiliki mindset yang tepat (apalagi untuk usia seukurannya), atau professor sekalipun belum tentu memiliki mindset berkembang seperti itu.
    Mindset itu ada pada setiap orang, karena Allah menganugrahkan setiap orang dengan potensi yang sama, tidak dibedakan, yang membedakan diri kita adalah kita sendiri dengan cara berpikir kita. Allah memberikan kebebasan pada manusia itu sendiri untuk memlilh jalan hidupnya, apakah ingin selalu mengeluh sepanjang waktu, atau terus menerus berusaha hingga akhir hayat…
    Mindset juga bukan hal mutlak yang membuat orang sukses, hanya saja mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan, dengan mindset yang berkembang, semangat tinggi, percaya diri, kerja keras serta di support oleh rasa bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta, saya rasa mindset akan lebih efektif karena “tepat pada tempatnya”.
    Orang yang memiliki mindet tetap cenderung sering mengeluh, berandai – andai , bermimipi, berangan – angan kosong, menyalahkan orang lain, kurang percaya diri, dan merasa bahwa dirinya kurang beruntung di dalam kehidupan di dunia. Mengapa mereka merasa demikian??? karena mereka memilih berpikir seperti itu, pikiran adalah pilihan.
    Ayah yang melihat anaknya bermain kotor-kotoran dapat memilih apakah dia akan memarahi anaknya dengan cara kasar (memukul, berkata-kata kasar) atau dia akan berlaku sebagai guru,membimbing & memberitahu anaknya bahwa berkotor2an yang dia lakukan itu tidaklah baik??.
    Sikap kita tergantung dari cara pandang kita, untuk memiliki cara pandang mindset berkembang bukan mustahil, semua orang bisa, semua orang sudah punya potensi yang sama tinggal bagaimana caranya menggali,,, dan menggali mindset butuh pengetahuan, dan pengetahuan didapat dari kerja keras,,,
    Jadi usahalah terus untuk menggali potensi diri, memperbaiki diri terus – menerus, pembelajaran terus menerus, memberikan manfaat bagi orang lain (bukan hanya untuk diri sendiri), janganlah lihat apa status sosial anda, apa latar belakang pendidikan, usia,,,berusahalah setiap hari dengan waktu yang kita punya, manfaatkan 24 jam yang kita punya setiap hari dengan hal yang bermanfaat, jangan jadi orang yang merugi….

  24. Intan Says:

    Bang Togap, terimakasih telah menghidupkan semangat saya untuk selalu berpikir positif dengan tulisannya yang sangat bermanfaat dan mudah dicerna.

  25. Ayu Says:

    yah aku setuju, memang kita harus bisa melihat depan & menelaah apa yg menjadi “substansial” dengan mind set yg jelas, praktis, terarah dan SIMPLE terkadang bisa membawa dalam kesuksesan..

    Kesuksean memang disikapi berbeda oleh berbagai pihak, yang jelas kita menyadari bahwa jalan menuju kesuksesan akan terus menanjak dan bukan menurun … pasti akan menemukan banyak kerikil…

    Aku termasuk yg IPK kepala 2, … sempat minder waktu pertama kali mau coba… termasuk golongan syarat minimum IPK .. pikir2 apa masih dilirik ?
    Semangat … kerja keras dan konsentrasi membawa aku sukses dapat beasiswa di kesempatan pertama nyoba …
    ternyata perjuangan belum selesai ….
    Sekarang masih terus berjuang di EAP (English for Academic Purpose) untuk mendapat band score minumum IELTS sebelum berangkat….

    Ternyata memang mendapat beasiswa tidak semudah membalikan telapak tangan … pastikan kamu punya semangat dan pantang menyerah …

    Sukses all…

    Ayu

  26. Togap Says:

    Dear Ayu,

    Yes, mendapatkan beasiswa memang tidak semudah membalik tangan. Tapi dengan semangat pantang menyerah kamu, saya yakin kamu akan berhasil memenangkannya.

    Sukses!
    Togap

  27. Restu Says:

    Siang Bang Togap, terima kasih atas tulisannya sangat bermanfaat sekali sekaligus bisa memberi semangat.

  28. itsuki Says:

    waduhh…ni banyak banget posting comment-nya…
    Ttg Mindset, aq setuju banget..!!!
    “ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum itu untuk mengubahnya…” iya kan???
    (but ini diluar konteks takdir lho…)
    Ttg IPK aq juga setuju…
    Cuman, ada satu permasalahan lagi yang aq cemaskan…
    Hmm…apa nama suatu universitas di Indonesia itu masuk kategori yah?
    Coz yg pernah kubaca itu, bilang kalo yang ssering terkenal ke LN tu cuman ITB, ITS, UI, UNAIR, UGM dan sedikit UNIBRAW dan Univ2 swasta yang beken lainnya …
    Hm… aq bukan salah satunya…(termasuk Univ Negri yang nun jauh dipelosok dan masuk Program Studi yang cukup baru yang pastinya banyak masalah di sana-sini)
    gimana yah…?
    Aq punya kesempatan nggak?
    (kalo inget ni, aq jadi org yang punya mindset tetap deh, alias pesimis bgt!!!)
    Mohon kalo ada yang tau… dijawab yah…
    makasih….

    Togap: Itsuki, kalau untuk beasiswa yang umum di Indonesia, seperti Fulbright, ADS, etc, mungkin benar kalau lulusan sekolah yang terkenal di Indonesia tersebut lebih punya peluang. Tapi untuk beasiswa yang diberikan langsung oleh sekolahnya, seperti banyak dilakukan di Amerika Serikat, hal ini tidak berlaku. Banyak universitas bagus di AS yang (maaf saja) tidak terlalu familiar dengan sekolah-sekolah top di Indonesia. Jadi basically, selama IPK kamu bagus, hasil test TOEFL ok, tulisan esai kamu maknyus, dll, kamu tidak perlu kuatir tentang sekolah dimana kamu menyelesaikan S1 dulu.

  29. Togap Siagian Menangis Sepanjang Jalan Medan - Pekan Baru « Says:

    […] bawah ini adalah respon dari Wilson Lalengke (Shony) di Utrecht atas tulisan saya berjudul “Pentingnya Mindset dalam Mengejar Beasiswa“. Tulisan ini saya kopi dari milis dikmenjur. Semoga memberikan inspirasi! Saya merekomendasi […]

  30. Jennie Says:

    Thanks Togap, saya sertakan dalam kontes, tapi bulan Juni ini topiknya “Why I’m Special” lho, jadi topik artikel Anda ini kurang kena.🙂

  31. adhitya Says:

    Pengalaman mencari dan memperoleh beasiswa juga saya alami ketika meneruskan studi ke jenjang S2 dan S3 di Eropa. Perbedaan utama dengan pengalaman pak Togap adalah dalam hal strategi mencari informasi tentang peluang beasiswa. Pola yang saya terapkan adalah mencoba beda dengan peminat beasiswa pada umumnya dalam hal cara memperoleh informasi beasiswa, termasuk lembaga pemberi beasiswa/universitas. Saya sering mencari segala peluang beasiswa di internet. Dari awal, saya kurang berminat mengikuti proses seleksi beasiswa dimana proses tsb terjadi di Indonesia (contoh: DAAD, AusAID, Fulbright, NEC, dll). Langkah yg diambil adalah memilih beasiswa dan lembaga terkait yang menerapkan proses seleksi melalui email dan/atau wawancara lewat telepon. Saat itu saya cenderung berpikir praktis bagaimana mendapatkan beasiswa ke luar negeri tanpa melalui proses yg berliku-liku dan relatif sedikit saingan. Alhamdullilah tahun 2004 saya mendapatkan beasiswa S2 Erasmus Mund us dari Uni Eropa
    utk belajar di Portugal dan Jerman. Posisi S3 di Perancis juga saya peroleh berkat kegigihan dan kreativitas dalam mencari peluang beasiswa di internet. Saran saya kepada rekan2 yang berminat studi lanjut, baik jenjang S2 dan S3, tidak harus menjadi pintar dan jenius untuk memperoleh beasiswa. Kreativitas anda dalam mencari peluang dan memposisikan diri anda sebagai kandidat yang tepat merupakan langkah jitu untuk menggapai impian tersebut. Faktor yang juga menentukan adalah KEBERUNTUNGAN.

    Berikut saya berikan dua alamat website tentang beasiswa S2 (Erasmus Mundus) dan S3 (Marie Curie Fellowship).

    http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/projects/index_en.html
    http://ec.europa.eu/eracareers/index_en.cfm

  32. candra apriadi Says:

    emang sih, pikiran itu pentring banget.
    tapi berdasarkan pengalaman, pikiran yang membumbung juga gak cukup, kita perlu menjaga dengan siapa kita bergaul. Di dunia ini, ada banyak orang di sekeliling kita yang jua bermindset negatif. jadi, ketika kita mengabarkan betapa kita punya pikiran yang tinggi, mereka akan berusaha menguburkan impian-impian kita dengan seribu logika mereka yang kedengarannya logis. cealakanya, mereka adalah teman kita sendiri.
    Entah bner pa enggak, untuk semewntara ini, cara gw memproteksi impian gw adalah gak terlalu banyak deket-deket mereka. lagian percuma aja deket mereka kalo tiap kali ngobrol mereka masukin pikiran-pikiran negatif ke kita.
    buat kalian yang kesulitan cari temen yang punya impian tinggi, add aja gw di frenster candra_psikolog84@yahoo.co.id
    maksud gw, gw juga suka kalo kalian punya impian yang tinggi n gw bnakal berusaha meyakinkan elo2 bahwa emang lo mampu u mewujudkannya.
    moga sukses c u

  33. adiwan Says:

    salam buat semua
    hebat bang Togap, sangat inspirasional!!!

    kadang kita kalo mau maju emang

  34. adiwan Says:

    salam buat semua

    hebat bang Togap, sungguh menginspirasi!!!

    kadang kita kalo mau maju emang harus tutup telinga, karna kadang ada yang bilang kita gak mampu.

    saya jadi inget peristiwa 7 tahun yang lalu waktu mau UMPTN, saya ditanya ama teman mau kuliah dimana? saya bilang pilihan 1 dan 2 saya ada di PTN teknik terkenal di bandung, mengingat prestasi saya di SMU, temen saya bilang “wah nekat loe” . tapi alhamdulilah saya mendapatkan pilihan ke 2 itu : )
    saya jadi membayangkan saya akan kuliah dmana jika saya dengarkan kata2 teman saya itu

    so, i think different mindset will bring you to a different place

  35. hilmi fasa Says:

    thx bang togap, tulisan bang togap bikin darah saya mendidih lagi. akhirnya sy ktemu bang togap (waktu bang togap roadshow dr kantor ke almamater).
    nanya bang togap, dulu stelah lulus s1, mmutuskan untuk kerja dulu ato langsung nyari beasiswa? kenapa?
    skali lagi, thx bang…

  36. Togap Siagian Says:

    Hilmi,

    Setelah lulus S1, saya memutuskan untuk kerja dulu. Soale ortu saya juga pas-pasan. Jadi habis lulus saya harus langsung kerja.

  37. Jennie S. Bev for Indonesia » Pemenang “Why I’m Special” Juni dan Kontes Juli 2007 Says:

    […] Togap Siagian dari Milis Beasiswa dengan postingannya “Pentingnya Mindset dalam Mengejar Bea S… Nama ini sudah tidak asing lagi di antara blogger pencari bea siswa dan pemilik blog-blog bea siswa […]

  38. Jennie Says:

    Togap, postingan ini memenang juara “lain-lain.” Cek di http://www.jennieforindonesia.com. Great!

  39. Astrid Says:

    hai..selamat anda sukses setelah berbagai kesulitan yang melanda……

  40. Same Shit Different Day Says:

    Aku pribadi menyadari IPK menjadi salah satu alasan kuat bagi aku untuk tidak berjuang mancari beasiswa. Karena IPK itu adalah IPK-ku untuk bidang teknik mesin yang sebenarnya tidak aku minati. Tapi aku yakin IPK-IPK ku di bidang lain jauh lebih tinggi dari itu. Dan aku yakin aku saat ini mendapatkan “beasiswa” untuk belajar sesuatu untuk melanjutkan ke jenjang “kemampuan” lebih tinggi.

    Memang aku tidak terdaftar sebagai mahasiswa di suatu perguruan tinggi dalam atau luar negeri untuk mendapatkan gelar S2 secara resmi. Tapi saat ini aku sedang dalam proses belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuan di bidang tertentu. Dan pada saatnya nanti aku akan menobatkan diriku dengan gelar S2 untuk bidang yang aku buat sendiri dan aku pelajari sendiri jika pada tahap tertentu aku sudah menguasainya.

    Walaupun sebenarnya dalam hati kecil aku pingin sekali sekolah keluar untuk ter-exposed dengan berbagai pengalaman di luar negeri yang asyik. Tapi aku percaya dengan hasil aku peroleh suatu saat nanti, aku akan mendapatkan pengalaman itu juga nanti.

    Poin saya adalah, buat yang memang sudah berjuang untuk mendapatkan beasiswa namun tidak mendapatkan karena nilai IPK yang cukup rendah (seperti diriku) jangan menyerah. IPK bukanlah label diri anda sebenarnya, itu adalah label sebagian kecil diri anda yang mungkin tidak terlalu anda minati (atau memang kebetulan anda juga malas belajar sewaktu S1). Ada banyak nilai lain dalam diri anda yang jika anda gali dan dalami mempunyai nilai IPK tinggi.

    Just don’t give up!

  41. putra Says:

    Kalau membaca dari ceritanya saya sangat salut kepada Bang Togap. Dengan mindset yang kuat dapat menggapai apa yang diinginkan.
    Bang Togap saya termasuk mantan mahasiswa yang salah jurusan yang akhirnya lulus dengan IPK 2.7 dan mempunyai mindset yang tidak stabil. Saya ingin sekali mencari beasiswa di i bidang ekonomi dan bisnis… Apa yang harus saya lakukan dan saya harus menulis essay yang bagaimana ya pak??

    Terima kasih atas jawabannya

  42. ali Says:

    bagimana membangun mindset tetap menjadi berkembang bang….?jangan mojokin yang tetap aja dong!!!kasih solusi geh….oh ya kalo bisa kita-kita dibagi sample tentang aplikasi utusan kok ane cari dimana-diman belum ketemu ya…apa ane sendiri yang jarang browsing ya!!maaf sih ane kuliah sambil ngasong nyari dolar kececeran pa jatuh dari dompet he…he…keliru bang!!!kayak nulis essay aj…… ya…cari duit untuk kuliah…syukur-syukur dapet beasiswa fulbright kayak bang togap amin….

  43. Anak Indonesia Umur 9 Tahun Kuliah Di Hong Kong! « Togap Siagian Says:

    […] saya pribadi, ini suatu pencerahan dan lagi-lagi suatu penegasan lagi atas teori tentang mindset. Mindset tetap saya sudah buru-buru bilang,”Wah, dia pasti secara genetis berbakat!”. […]

  44. reza Says:

    bang togap yg selalu berkembang,
    saya ini mahasiswa yg pengeeeeeeeeeeeeeeeen berat dapet beasiswa ke ln. Masalahnya, saya gak tau mau belajar apa disana? saya sekarang kuliah di sebuah pts dengan beasiswa penuh dan nilai IP saya, alhmadulillah diatas 3,5. cuma saya bingung, mau ngelamar beasiswa yg mana yaaa… Saya minta sarannya donk, saya pengen banget mewujudkan cita2 ibu saya, yaiutu melihat anaknya dapat beasiswa ke ln.

  45. Aqsal Syukrillah Says:

    Bang Togap yang Hebat
    “SITUA MENJEMPUT KAMIKAZA”
    Pertengahan tahun 2009 rencananya saya nekad akan kuliah di LN Abil sosiologi.(Meski tanpa biasiswa awal, dan cari kerja paruh waktu di sana).
    Membaca tulisan abang tentang mindset, mungkin saya tergolong yang super berkembang. Bagaimana tidak dengan seabrek kekurangan nekat berencana kuliah ke LN. Bayangkan dengan memiliki kemampuan B.ingris yang casciscus, Bokek (PNS Gol.Kecil), belum lagi usia yang “gaek” (35 th – 2009= +37 th) belum lagi sudah ada 2ekor ( anak), belum ada konsep tesis, tdk pernah ikut TOEFL, belum lagi 999 kendala lainnya, seperti tdk ada izin atasan dll.).
    Namun sekarang saya merobah drastis kebiasaan saya, agar diketahui untuk mengejar kekurangan tersebut saya sekarang mendalami kembali B.inggris (karena S1-nya dulu emang FKIP B. Inggris), mulai memaksakan menabung sejak 1 Juli kemarin meski 2 hari berturut-turut makan kangkung, cuma makan gaji istri (kebetulan istri juga PNS), mulai buka-buka internet,
    Melihat keadaan saya tersebut bagaimana menurut teman-teman, langkah awal apa yang harus saya siapkan hingga 2009. Perlukah saya meninggalkan S2 yang saya ikuti skarang ini (baru smt 1, lain jurusan yang diinginkan-I lmu Pendd.Islam IAIN) regestrasi semester depan apa baik di tabung buat persiapan dari pada diteruskan kuliah.
    Kalau keinginan saya kuliah di eropa.juli 2009 kalau panjang umur sigaek ini akan nyemplung dan siap melarat. Tlg. info perguruan tinggi di Polandia, Denmark dan sekitarnya.
    Mohon saran dan masukkan trims banyak.

  46. baskoro Says:

    waowww setuju banget ’bout mindset, saya jadi semangat lg nyari beasiswa. setelah membaca tulisan bang togap saya seperti diingatkan pada keinginan lama untuk S2 dan mjd dosen. saya emang harus sering-sering diingatkan pada tujuan. thank, saya percaya pasti berhasil, tunggulah saya akan berbagi cerita. doakan ya

  47. rijalulghad Says:

    dalam seleksi penerimaan beasiswa di LN, IPK jarang (bukan berarti tidak) mempengaruhi proses seleksi.
    In my case, IPK saya dibawah 2,75 lha ini lebih parah. wong seleksi kerja aja dah gugur duluan.
    Tapi, ya sekali lagi sukses=mindset+usaha+do’a

    maka, buat temen2.. gada yg mustahil kecuali anda yg membuatnya jadi muskil..

    SEMANGAT!!!

  48. Bonek Says:

    Wah Abang ini jangan ngasih harapan yang terlalu tinggi buat yang IPKnya dibawah 2,75 untuk bersaing berburu beasiswa.
    Suruhlah mereka bekerja dengan giat dan benar, atau usaha cari duit supaya mereka bisa biayai sendiri kuliah mereka di luar negeri.
    Kalo baca Pentingnya Mindset Dalam Mengejar Beasiswa
    June 7, 2007 — Togap Siagian, saya setuju sama orang yang abang anggap “negatif”, jelas lah kalau abang bekerja di PT Freeport atau donatur lainnya, abang akan dapat prioritas, yang mungkin abang anggap sebagai “kebetulan” atau “usaha sendiri”. Sekarang kan abang sudah MBA, pastinya sekarang sudah tahu gimana sih “real world” sebenarnya.
    Jadi kalau tulisan abang untuk memotivasi orang dengan IPK 3 (atau sesuai dengan persyaratan minimum beasiswa) sih wajar-wajar aja. Tapi kalo untuk IPK dibawah 2,75 (dibawah persyaratan minimum) ikut-ikutan “mimpi” dapet beasiswa bersaing, wah keterlaluan
    abang!
    Biarlah mereka berprestasi di bidangnya masing-masing, nah baru siapa tau kalau mereka berhasil mereka beruntung bisa kuliah di luar negeri dari haril usaha mereka atau bantuan pihak lain.
    Yang penting jangan buat mereka mimpi terlalu tinggi sampe mengejar yang sia-sia, sedangkan jalan yang sekarang ada mereka tinggalkan.

  49. keisahanan Says:

    Dear All.
    dengan mendapat beasiswa, anda semua dapat berkesempatan untuk memdapatkan wawasan yang lebih dalam lagi (kuliah s2 or s3), adakah terlintas untuk memanfaatkan ke dalaman ilmu saudara untuk menyelesaikan masalah bangsa ini dengan terjun langsung dan mengangkat harkat dan martabat sebagian rakyat yang masih berpikiran bahwa meraka terlahir memang untuk miskin dan menderita. Memberi manfaat untuk orang yang kita cintai dan orang lain adalah inti kebahagian hidup.

  50. azman Says:

    met sore pak togap and smua,
    duh seneng ngebaca motivasinya….
    btw, mungkin saya ikut mindset berkembang kali ya,
    sbb sampai saat ini masih semangat dan pengen belajar dan belajar lagi…..
    kayaknya kebanyakan yang nyari beasiswa tuh udah pada pernah kuliah semua, ada enggak sih beasiswa buat nglanjutin ke university? karena kurangnya biaya dulu saya cuma bisa selesaikan sekolah sampai SMU saja, jujur sampai hari ini saya masih cari beasiswa/donatur buat biaya saya nglanjutin tuk kuliah, walaupun NEM saya tak begitu berprestasi, tapi sampai hari ini dah 8 tahun saya terus cari cari informasi tentang beasiswa, semangat belajar saya masih menggebu.
    buat pak togap dan siapa aja yang tau solusi buat problem diatas tolong yah dijawabin,

  51. miethy Says:

    SETUJU!!!!!!
    ma bang Togap….
    memang dalam hidup kita harus punya mindset berkembang
    tapi gak mungkiri klo kita kadang harus realistis, mengebu tapi realistis….
    tapi klo untuk motivasi…..ok lah.
    aku juga pengen nyemplung langsung ke LN….kerja dulu…lalu cari beasiswa……untung2 klo dapet ortu asuh trus dibiayain…he he he he he he
    kira-kira biayanya berapa ya klo hidup disana LN????

  52. Alimudin Says:

    terimakasih sebuah inspirasi yang hebat…
    tolong kirimi saya artikel atau informasi lain tentang beasiswa. saya sedang mengikuti program S2 administrasi negara. bagaimana saya bisa mendapatkan beasiswa buat menyelesaikannya? barangkali ada yang bisa bantu terima kasih.

  53. Franz Sinurat Says:

    terima kasih atas artikel yang luar biasa,yang baru pertama sekali saya baca…

    artikel ini kembali membangkitkan semangat saya yang hampir punah untuk mewujudkan mimpi saya melanjutkan studi ke Jerman….he..he.he…

    terima kasih Bang Togap

  54. filia Says:

    bang aqsal…setau saya di swedia masih ada gratis lho biaya universitas untuk kuliah s2…tapi saya kurang tau apa jurusan yang bang aqsal mau ada disana…Jadi klo biaya kuliah udah gratis tinggal kumpulin biaya untuk living cost aja…semogaa membantuu yaa…

  55. Arsel Says:

    @Mr/Ms. Filia….
    ya..benar sampai saat ini&detik ini di swedia msh memberikan kul gratis utk mahasiswa2nya baik internasional student maupun lokal.dan itu utk smua jurusan. namun berdasarkan pngalaman sy yg sdh 6bln tinggal di swedia..wlpn kuliah gratis,namun biaya hdp dsini sgtlah tinggi…lebih tinggi dibanding negara2 eropa lainnya spt jerman,blanda,dll. terlebih 1bln yg lalu sy baca koran lokal bhw ada keputusan pemerintah swedia akan mengenakan biaya kul utk mhsiswa internasional trutama mahasiswa di luar EU. jd harus di perhitungkan juga…krn wlpn disini memungkinkan utk partime job&sbagian masy dsini fasih b.inggris,tp kemampuan dlm b.swedia di perlukan juga(at least kemamp b.swedia yg dasar). maaf bukannya sy mematahkan semangat…tp sy hanya ingin memberikan informasi agar bisa survive dswedia.
    tp spt topik dari bang togap…klo mindset kita sudah bisa kita terapkan ke arah positif apapun pasti bisa tercapai dan pasti ada jalan

  56. dewi hadin Says:

    Bang Togap, numpang ngasih saran ya untuk Aqsal Syukrillah.
    Mas Aqsal, perubahan kecil yang anda lakukan insyaallah akan berbuah. Memang butuh waktu untuk melihat perubahannya, dan itu tergantung dari seberapa besar kemajuan yang anda kejar. Saya setuju anda mulai mengasah bahasa inggris. Jangan menyerah untuk mengejar nilai TOEFL mas! Ayo semangat!

    Melihat basic ilmu mas Aqsal yang dari Agama Islam itu, saya jadi teringat bahwa universitas Leiden di Belanda itu punya banyaaak sekali jurusan untuk studi2 budaya. Disana juga ada jurusan Studi Islam. siapa tau anda bisa mempelajari Islam dari sudut pandang yang lebih luas? Dan lagi, ilmunya tidak terlalu loncat. Universitas Leiden juga menyediakan beasiswa2. Jangan lupa ke European Education Fair tanggal 1,2 november nanti di balai kartini. Search di google tentang hal ini dan cari websitenya, lalu kontak panitianya untuk mendaftar sebagai visitor. Semoga membantu menerangi jalan mas Aqsal mencapai cita-cita…..🙂

  57. erween Says:

    great sekarang saya jadi feeder anda

  58. ria Says:

    mw nya sich dapat beasiswa….
    biar gk ngebebanin k2 ortu..
    tp gmn ya???
    koq syaratnya rumit bgt sichh…
    ade yg lbh mudah gk… hehehe…:-)

  59. Alexandra Ryan Says:

    Dear Mas Togap,

    Punya contoh-contoh format Esai seperti yang Mas Togap sebutkan di atas gak? Saya sudah browsing2 di internet tetapi tidak dapat yg pas.

    Thanks,
    Alex

  60. ade sopian Says:

    saya juga akan kuliah ke luar negeri dengan beasiswa insya allah amiiiin.
    terimakasih bang togap

  61. lia oktarina (@liabiscuitss) Says:

    dear mas togap,
    saya ingin bertanya bagaimana peluang mendapatkan beasiswa untuk perguruan tinggi swasta, tentu akan lebih diprioritaskan lulusan dari perguruan tinggi negeri bukan?
    kemudian untuk fresh graduated seperti saya yang belum memiliki pengalaman kerja apakah ada hal lain yang perlu saya kembangkan untuk menarik minat para pemberi beasiswa.
    terima kasih atas saran dan masukan nya mas togap.🙂

  62. CuPcAkE Says:

    nyimak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: